SAHAMBAGUS.CO.ID-Di tengah gejolak pasar saham Indonesia yang ditandai dengan penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Januari 2026, raksasa manajemen aset global BlackRock Inc. justru menunjukkan minat besar terhadap saham-saham terafiliasi dengan konglomerat Indonesia, Prajogo Pangestu. Aksi “serok” atau pembelian masif ini menjadi sorotan karena terjadi saat IHSG mengalami trading halt berulang kali akibat aksi jual masif dan kekhawatiran transparansi pasar.
Artikel ini akan membahas latar belakang, detail transaksi, serta dampaknya terhadap pasar dan kekayaan Prajogo.
Prajogo Pangestu, yang sering disebut sebagai orang terkaya di Indonesia, mengendalikan Grup Barito melalui berbagai entitas seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Petrosea Tbk (PTRO). Kekayaannya terutama berasal dari sektor petrokimia, energi terbarukan, dan pertambangan. Menurut data Forbes Real-Time Billionaires per akhir Januari 2026, kekayaan Prajogo mencapai sekitar 30,2 miliar dolar AS atau setara Rp 506 triliun, meskipun mengalami penurunan signifikan akibat gejolak pasar. Penurunan ini dipicu oleh laporan MSCI yang menyoroti kurangnya transparansi di pasar saham Indonesia, termasuk praktik “goreng-gorengan” saham.
Grup Barito sempat menjadi pendorong utama kenaikan IHSG di awal 2026, dengan IHSG mencapai rekor tertinggi (all-time high) di level 9.032 pada pertengahan Januari. Namun, sentimen berbalik ketika IHSG anjlok hingga 8% dalam dua hari, memicu trading halt pada 28-29 Januari 2026. Saham-saham Grup Barito seperti PTRO turun 14%, BRPT 11%, dan CDIA 10%.
BlackRock, sebagai manajer aset terbesar di dunia, tercatat agresif memborong saham-saham Grup Barito sepanjang Januari 2026. Berdasarkan data Bloomberg, BlackRock menambah 1.076.643 saham TPIA, sehingga kepemilikannya meningkat. Selain itu, BlackRock juga membeli 656.453 saham BREN, menjadikan total kepemilikan mencapai 275.956.335 saham atau 0,21% dari total saham beredar. Aksi ini menjadi katalis positif di tengah penurunan pasar, menunjukkan kepercayaan investor institusi global terhadap prospek jangka panjang sektor energi dan petrokimia Indonesia.
Tidak hanya BlackRock, JPMorgan juga ikut serta dengan memborong saham TPIA, BRPT, dan CUAN. Dimensional Fund Advisors pun menambah jutaan saham BREN dan CUAN. Secara keseluruhan, akumulasi ini berkontribusi pada reli sementara IHSG sebelum penurunan tajam akhir bulan. Post di X dari Bloomberg Technoz juga menyoroti bagaimana investor asing ini kompak mengoleksi saham Grup Barito.
Penurunan IHSG pada Januari 2026 mencapai puncaknya dengan ambruk 3,44% pada awal Februari, diikuti longsor saham emas dan emiten Prajogo. Trading halt terjadi dua kali berturut-turut, dengan IHSG turun hingga level 8.043. Kekayaan Prajogo menyusut Rp 60,34 triliun dalam seminggu, meskipun ia tetap menjadi orang terkaya Indonesia. Menariknya, di tengah koreksi ini, Prajogo justru menambah kepemilikan sahamnya sendiri. Ia membeli 7 juta saham CUAN senilai Rp 10,86 miliar pada 28 Januari 2026, meningkatkan kepemilikannya hingga 84,08%. Komisaris PTRO juga borong 400.000 saham senilai Rp 3,66 miliar saat harga anjlok 24%.
Aksi BlackRock dan investor asing lainnya menandakan optimisme terhadap sektor energi terbarukan dan petrokimia di Indonesia, terutama di tengah transisi energi global. Namun, gejolak IHSG menunjukkan kerentanan pasar terhadap isu regulasi dan transparansi, seperti yang disoroti MSCI. Di sisi lain, pembelian oleh Prajogo sendiri menunjukkan keyakinan internal terhadap nilai fundamental perusahaannya, meskipun kekayaannya lenyap Rp 150 triliun dalam dua hari.
Secara keseluruhan, peristiwa ini menggarisbawahi dinamika pasar saham Indonesia: peluang bagi investor jangka panjang di tengah volatilitas jangka pendek. Investor disarankan memantau perkembangan regulasi OJK dan sentimen global untuk menghindari risiko serupa di masa depan.