Emiten Konglomerat ARCI, DSSA Cs Kejar Cuan Program Listrik Bersih Pemerintah

11/27/2025 — mahmud yunus, Saham Bagus TeamMarket

Bisnis.com, JAKARTA – Arah kebijakan pemerintah yang makin tegas mendorong transisi menuju pembangkit listrik energi bersih membawa angin segar bagi sejumlah emiten. Tidak hanya pemain lama sektor energi, perusahaan yang berada dalam jaringan konglomerasi besar seperti DSSA hingga ARCI kini mulai mengakselerasi diversifikasi ke lini pembangkit hijau. Tiga emiten teranyar yang mengumumkan rencana diversifikasi bisnis mereka adalah PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI), hingga PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR). Dari ketiga emiten ini, segmentasi pendapatan dari energi baru terbarukan (EBT) masih berkontribusi mini, bahkan belum ada sama sekali. Dimulai dari DSSA, emiten afiliasi Grup Sinar Mas ini melalui anak usahanya PT DSSR Daya Mas Sakti (DSSR) menjalin kerja sama pembentukan ventura bersama (JV) dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia (FGGI), entitas anak dari Energy Development Corporation (EDC) yang terafiliasi dengan perusahaan EBT raksasa asal Filipina, First Gen Corporation (First Gen). Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan DSSA pada Agustus 2025, kesepakatan pembentukan JV ini akan berfokus pada pengembangan dan pengelolaan sumber daya panas bumi dengan potensi gabungan sekitar 440 megawatt (MW) yang tersebar di enam wilayah strategis, yaitu di Jawa Barat, Flores, Jambi, Sumatra Barat, dan Sulawesi Tengah.

Pemerintah Indonesia mendorong transisi energi bersih dengan target bauran energi baru terbarukan mencapai 34,3% pada 2034, memberikan peluang bagi emiten seperti DSSA, ARCI, dan FUTR untuk diversifikasi ke sektor pembangkit listrik hijau. PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA) dan PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) telah membentuk usaha patungan untuk mengembangkan proyek panas bumi, sementara PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR) berencana mengembangkan proyek tenaga surya dan panas bumi. Komitmen pemerintah dalam energi bersih, termasuk melalui Green Taxonomy 2.0 dan Just Energy Transition Partnership (JETP), diharapkan mendukung pendanaan dan menurunkan biaya modal untuk proyek energi terbarukan di Indonesia.


Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *