Good To Great, Kinerja Keuangan Bagus Sudah Tidak Cukup Lagi, Investor Menuntut Aksi Ini

11/09/2025 — Ahmad Anke, Saham Bagus Trading Community
📞 Hubungi via WhatsApp
⚖️ Neutral

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sahabat investor ritel Indonesia,

Ada pergeseran trend di dunia saham Indonesia. Saham-saham yang fundamentalnya bagus dengan kinerja keuangan yang impresif belum tentu diminati investor saat ini bahkan cenderung harganya turun.

Ini terlihat dari performa index LQ45 YOY setahun ini justru terjun -12. 5% dan IDX 30 turun -11% YOY. Menandakan bahwa saham-saham lapis pertama dan yang paling diunggulkan justru performanya turun. Padahal dari sisi bisnis dan dari sisi fundamental mereka tidak ada masalah Namun mengapa investor tidak tertariktertarik melakukan akumulai beli? Ada apa?

Hal ini dikarenakan banyak emiten terutama di saham-saham milik konglomerat seperti milik Pak Prayogo Pangestu,  Happy Hapsoro, Salim, Haji Isham, SinarMas, Erick Thohir, yang gemar melakukan aksi korporasi bukan saja melulu berlandaskan pada kinerja keuangan yang baik.

Saham milik Prayogo Pengestu misalnya :

  • BREN naik 56.5%
  • BRPT naik 286%
  • CUAN naik 227%
  • PTRO naik 408%
  • CDIA yang baru IPO  naik  18%.

Saham milik HAPPY HAPSORO

  • RAJA naik 69%
  • RATU baru IPO naik 25%
  • BUVA naik 1450 %
  • MINA naik 879%
  • UANG naik  195%

  • Saham milik H ISAM
  • JARR naik 1008%
  • PGUN naik 3007%
  • TEBET naik 266%

Saham milik grup Djarum

  • SSIA 271%
  • RACK 72 %
  • HEAL 6%

Saham milik SINARMAS

  • DSSA naik 123%
  • SMAR naik 20%
  • BSIM naik 10%
  • EXCL naik 23.4%

Saham Erick Thohir

  • ADMR naik 8.7%
  • MDKA naik 6.6%
  • TRIM naik  108%

Memang sebagian emiten milik konglomerat juga ada yang terkoreksi turun seperti milik Erick Thohir ada ADRO AADI EMAS BFIN WOMF. Juga milik Sinarmas seperti DMAS BSDE.

Sejauh ini konglomerat yang paling moncer kinerja sahamnya secara akumulatif adalah Pak Prayogo Pangestu dan Pak happy Hapsoro. Disusul Pak Haji Isam.

Saham-saham tersebut naik karena rajin melakukan aksi korporasi yaitu sebuah kegiatan yang melakukan peningkatan ( top up) dalam 3 hal:

  1. Top up asset.
  2. Top up bisnis
  3. Top up investor.

Kegiatan yang meningkatkan nilai tambah perusahaan atau value Creation ini dilakukan dengan melalui mekanisme aksi korporasi yang saya kategorikan menjadi 9 yakni:

  1. Buy back saham
  2. Right issue
  3. Private placement
  4. Bagi dividen
  5. Akuisisi perusahaan baru
  6. Divestasi perusahaan Anak/unit bisnis
  7. Peningkatan kadar Freefloat
  8. Pembelian aset
  9. Pergantian direksi/komisaris

Tahun 2026 mendatang saya prediksi makin banyak emiten yang akan rajin melakukan aksi korporasi dikarenakan hal ini disukai oleh investor baik retail institusional maupun investor asing.  Yang membedakan adalah Apakah aksi korporasi itu sifatnya material atau immaterial.  Apakah aksi korporasi tersebut benar ataukah palsu.

Terjun bebasnya harga emiten IOTF & DADA adalah contoh aksi korporasi yang awalnya kelihatan benar kemudian terbukti palsu. Akhirnya investor ritel publik yang dirugikan.

Mengaca pada fenomena itu maka kita sebagai investor retail harus lebih berhati-hati lagi apabila membaca narasi aksi korporasi apalagi jika perusahaan tersebut termasuk emiten kecil dan beritanya tidak ada konfirmasinya dan belum termuat di keterbukaan informasi di website  IDX. Pastikan berita itu bukanlah noise atau rumor tapi sudah menjadi fakta barulah kita membeli emiten tersebut.

Semoga Tuhan dan cuan bersama kita

Salam Barokah Kyai saham bagus

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *