Hashim Djojohadikusumo menjelaskan bahwa MSCI memberi peringatan setelah mengirim empat surat kepada pemerintah Indonesia yang tidak pernah sampai, sehingga pemerintah tidak menerima informasi apa pun. Otoritas pasar modal bersama SRO telah melakukan pembenahan, namun ia menyoroti adanya saham “gorengan” dengan PER ratusan hingga ribuan kali dan free float hanya sekitar 1‑1,5 %, yang menandakan manipulasi dan potensi korupsi. Meskipun demikian, Hashim tetap optimistis bahwa fundamental pasar modal Indonesia kuat, sambil mengungkapkan bahwa ia memiliki saham di BEI melalui PT Arsari Sentra Data. !