Jakarta, Sahambagus.co.id-Emiten pertambangan batu bara milik Grup Bakrie dan Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), mengalami penurunan signifikan dalam laba bersihnya hingga kuartal III/2025. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, laba bersih BUMI tercatat hanya US$29,4 juta, anjlok 76,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$122,86 juta.
Ironisnya, penurunan laba ini terjadi di tengah peningkatan pendapatan usaha yang justru tumbuh 11,9% secara tahunan, dari US$926,9 juta menjadi US$1,03 miliar hingga akhir September 2025.
Penurunan laba bersih BUMI dipengaruhi oleh beberapa faktor utama seperti beban pokok pendapatan meningkat: Naik menjadi US$875,99 juta dari sebelumnya US$833,27 juta, menggerus margin keuntungan. Penurunan kontribusi laba entitas asosiasi dan ventura bersama, karenaturun drastis dari US$67,35 juta menjadi US$27,76 juta, menunjukkan pelemahan kinerja anak usaha dan mitra strategis.
Beban usaha membengkak atau meningkat dari US$68,18 juta menjadi US$76,93 juta, menambah tekanan terhadap laba operasional.
Beban bunga dan keuangan naik, dari US$12,59 juta menjadi US$15,02 juta, memperburuk posisi laba bersih.
Meski demikian, BUMI masih mampu mencatatkan laba usaha sebesar US$84,36 juta, naik dari US$25,42 juta pada periode yang sama tahun lalu, berkat peningkatan laba kotor menjadi US$161,3 juta.
Penurunan laba bersih BUMI mencerminkan tantangan yang dihadapi sektor batu bara, termasuk fluktuasi harga komoditas global, tekanan biaya produksi, dan penurunan kontribusi dari entitas afiliasi. Meski pendapatan meningkat, efisiensi operasional dan strategi diversifikasi menjadi kunci untuk menjaga profitabilitas ke depan.
Investor dan analis kini menyoroti langkah-langkah strategis BUMI dalam menghadapi tekanan margin dan mempertahankan daya saing di tengah transisi energi global.
Dengan kondisi ini, BUMI menghadapi tantangan besar untuk mengembalikan momentum laba bersihnya, meski tetap menunjukkan daya tahan dari sisi pendapatan dan operasional.