SAHAMBAGUS.CO.ID-Di tengah euforia dividen akhir tahun, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) melakukan manuver cerdas dengan “borong” miliaran lembar saham anak usahanya, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). Transaksi ini, yang dilaporkan melalui keterbukaan informasi BEI pada 17 November 2025, mencatat pembelian total 2,1 miliar lembar saham SCMA senilai Rp755 miliar—terjadi dalam dua kali aksi pada 11 dan 14 November 2025. Strategi ini bukan hanya memperkuat kendali EMTK, tapi juga memaksimalkan hak dividen interim SCMA yang cair 9 Desember 2025, di mana EMTK kini berpotensi raup Rp468,61 miliar dari total guyuran Rp571,2 miliar.
Manuver EMTK terlihat seperti langkah presisi. Pada 11 November 2025, EMTK menyerok 1 miliar lembar saham SCMA di harga Rp370 per lembar, menggelontorkan Rp370 miliar. Tiga hari kemudian, pada 14 November 2025, aksi lanjutan dengan 1,1 miliar lembar pada Rp350 per lembar, senilai Rp385 miliar. Totalnya, kepemilikan EMTK di SCMA melonjak dari 67,55% (49,96 miliar lembar) menjadi 70,39% (52,06 miliar lembar), mempertegas posisi sebagai pengendali utama di emiten media induk SCTV dan Indosiar ini.
Corporate Secretary EMTK, Titi Maria Rusli, menyatakan transaksi ini murni untuk tujuan investasi jangka panjang, menjaga dominasi di sektor media digital yang sedang bergairah. Namun, timingnya tak lepas dari sentimen dividen: Cum date SCMA jatuh 18-20 November 2025, dengan recording date 20 November pukul 16.00 WIB, tepat setelah transaksi EMTK selesai. Hasilnya? EMTK “curi start” untuk amankan porsi lebih besar dari dividen interim Rp9 per saham—setara 96,56% laba bersih Q3/2025 SCMA yang Rp591,57 miliar.
Aksi ini langsung picu respons positif. Saham EMTK menguat 2,75% ke Rp374 pada 18 November 2025, melanjutkan tren YTD naik 123,95%. Sementara SCMA, yang sempat fluktuatif di Rp350-370, kini punya katalisator kuat dari dividen jumbo dan rumor IPO Superbank (bank digital afiliasi EMTK). Di X, sentimen ramai: @InvestorID soroti “kuasai 70,39% saham SCMA” (19 November), sementara @ajaib_investasi sebut EMTK sebagai afiliasi Superbank yang “mulai dilirik” (13 November).
Fundamental SCMA juga solid: Pendapatan Q3/2025 Rp5,04 triliun (turun tipis 0,88% YoY), tapi laba naik 16,14% berkat efisiensi konten digital. Dividen ini lebih tinggi 80% dari interim 2024 (Rp5 per saham), sinyal optimisme grup Emtek di tengah transisi media ke streaming.
Strategi Trader: Manfaatkan Momentum Pre-Ex Date
Bagi trader, manuver EMTK jadi peluang: Buy SCMA di Rp350-360 untuk target Rp390-400 pre-ex date (19-21 November), potensi cuan 8-11% plus yield dividen. Risiko? Koreksi pasca-ex date, tapi dukung dengan monitor IPO Superbank yang bisa dorong valuasi grup. EMTK sendiri layak hold untuk dividennya Rp5 per saham (cair Desember).
Manuver ini bukti EMTK tak main-main, Fakta menyatakan, borong saham anak usaha bukan sekadar akumulasi, tapi taruhan panjang di ekosistem media-digital. Jelang cairnya dividen 9 Desember, pasar saham seperti SCMA dan EMTK siap panen—tapi ingat, Do Your Own Research (DYOR) dan kelola risiko! (Diolah dengan bantuan AI)
Disclaimer: Bukan saran investasi. Data per 20 November 2025.