Oleh: Ahmad Anke, Founder Saham Bagus Trading Community
–
Sebelum tahun 2000, struktur pasar saham Indonesia ( IDX) itu didominasi investor asing. Sehingga Fundamental Analysis itu sangat berpengaruh. Emiten yang fundamentalnya bagus diborong investor asing dan harganya melambung tinggi, terlebih saat itu belum ada aturan ARA ( auto reject atas) dan ARB ( auto reject bawah).
–
Setelah tahun 2000, struktur pasar IDX mulai berubah. Investor Asing mendapat “lawan” yakni Investor Institusional Domestik, seperti Dana Pensiun, BPJS dan Perusahaan Asuransi. Ingat khan? Di tahun 2000-an Unit Link asuransi sangatlah berkembang dan di dalam portofolio unit link itu ada saham Indonesia. Akibatnya pasar saham Indonesia dinamis sekali. Ada lawan jual dan beli antara Investor Asing vs Investor Institusional Domestik. Investor ritel saat ini masih kecil dibawah 30%.
–
Struktur Pasar Saham berubah drastis saat terjadi Covid. Investor ritel berbondong-bondong masuk ke IDX, sehingga komposisi investor ritel IDX dari Covid ( 2019- sekarang) mendominasi, di kisaran 55%-60%. Angka tiap sekuritas dan analisis berbeda-beda namun saya melakukan riset ya rata-rata di angka itu. Artinya Investor Asing dan Investor Institusional Domestik menjadi minoritas, di kiraran ( 40%-45%) saja.
–
BEDA SELERA INVESTOR ASING & INVESTOR INSTITUSI DOMESTIK VS INVESTOR RITEL.
–
Investor Asing seleranya adalah saham BigCap seperti Banking dan saham LQ45 yang masuk ke daftar emiten MSCI. Karena mereka membawa dana passive fund ( dari dana pensiun) minimal sehari 1T bahkan sampai 10T sehingga tidak mungkin mereka masuk ke emiten saham yang likuditasnya kecil. Mereka akan susah masuk ( buy) dan juga susah keluar ( sell).
–
Investor Institusi Domestik, juga dananya besar, mereka juga gak mungkin masuk ke emiten kecil yang hi risk, rata-rata mereka pun masuk mengikuti kemana Investor Asing masuk.
–
Sedang Investor Ritel Domestik, karena dananya kecil namun jumlahnya banyak, mereka masuk ke emiten-emiten yang sedang “hype” mengharap return yang besar. Saham-saham Konglo adalah salah jenis saham yang menjadi “tempat berkumpul”nya investor ritel, demikian juga saham-saham “small cap” yang harganya dibawah Rp 1000/ lembar saham.
–
Investor ritel ini yang mudah dipengaruhi news & sentimen. Mereka tidak punya kemampuan melakukan analisa fundamental, karena ya analisis fundamental itu susah. Gak bisa cuma belajar sebentar. Dan untuk melakukan analisis fundamental harus lama dan diupgrade dari waktu ke waktu dan juga harus mendapat informasi dari orang dalam/manajeme emiten.
–
RETAIL WAR: INVESTOR RITEL VS INVESTOR RITEL.
Jadi, sekarang jika Anda trading di saham saham Non BigBank dan Non MSCI, maka kemungkinan besar lawan Anda adalah TEMAN ANDA SENDIRI yakni sesama Investor Rtel Indonesia. Khususnya pada saham-saham KONGLO dan saham saham small cap tadi.
Mau bukti?
Saat saham Konglo jatuh di Senin pagi, 27 Oktober 2025 itu yang membuat jatuh adalah panic selling investor ritel. Setelah terbit pengumuman bahwa MSCI akan rebelancing di Januari 2026 menggunakan metode berbeda yakni saham owner pengendali dan nomineenya gak boleh dimasukkan pada perhitungan “free float” sahamnya. Porsi saham Indonesia di MSCI Asia juga akan dikurangi.
–
Entah siapa yang menghembuskan pola pikir bahwa dengan rebalancing MSCI ini, Saham Konglo akan kembali ke valuasi awalnya sebelum di pom-pom. Paniklah ritel, mereka lantas melakukan aksi jual saham konglo milik Prayogo Pangestu, Erick Thohir, Happy Hapsoro Haji Isha, dan Djarum. Nyungsep sampai diatas 10%.
–
Saya senin itu justru melakukan aksi sebaliknya. Saya serok membeli saham konglo yang jatuh khususnya saham milik Prayogo Pengestu yakni BRPT PTRO CUAN BREM CDIA. Khusus TPIA gak saya serok karena rekam jejaknya saya tahu saham TPIA lambat naiknya.
–
Alhasil di Rabu, 29 Oktober 2025. Saya mendapatkan keuntungan,saya juallah saham Konglo saya antara lain BRPT PTRO CUAN BUVA ADRO dll.
–
Artinya apa? Saya melawan kawan-kawan investor ritel. Saya harus bisa mengalahkan mereka kalau enggak ya saya yang kalah atas mereka.
–
Jadi, pertanyannya kemudian, Apakah Anda pembaca web www.sahambagus.co.id ini sudah siap berperang denga saudaramu sendiri? Dengan cara:
Lebih pintar dan lebih cerdas ?
Lebih gesit cekatan ?
Lebih punya informasi terlebih dahulu ?
Lebih punya support system yakni komunitas trading saham?
Kalau belum punya ya Anda akan kalah. Oleh karena itu ayo join SAHAM BAGUS TRADING COMMUNITY, link ada di bawah ini.
Join sahambagus wa.me/6281298672885