Bisnis.com, JAKARTA – Defisit APBN sepanjang 2025 sebesar 2,92% terhadap PDB membawa sentimen yang dapat mendorong maupun membebani pergerakan sejumlah saham. Adapun, defisit APBN tahun lalu menjadi desifit terbesar dalam dua dekade terakhir, tanpa menghitung masa pandemi covid-19 2020 dan 2021. Kondisi ini menekan rupiah, membuatnya berada pada level terendah sejak April 2025 usai terdepresiasi dalam tujuh hari perdagangan beruntun. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menilai di tengah situasi makro ekonomi ini, ada sejumlah saham yang terdampak negatif, dan ada juga yang justru mendapat katalis positif.