Prajogo Pangestu Guncang Bursa! Rahasia Buyback Massal BREN & TPIA Selamatkan Imperium Saham dari Jurang Kehancuran!

02/05/2026 — mahmud yunus, Saham Bagus TeamMarket

SAHAMBAGUS.CO.ID-Di tengah gejolak pasar saham Indonesia yang dipicu oleh isu investability dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), konglomerat Prajogo Pangestu tampil sebagai aktor utama dengan menggelar aksi buyback saham secara massal. Fokus utama pada dua emiten unggulannya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), yang masing-masing mengalokasikan dana hingga Rp2 triliun untuk pembelian kembali saham.

Langkah ini bukan hanya respons defensif terhadap penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mengalami trading halt dua kali akhir Januari 2026, tetapi juga strategi cerdas untuk menjaga dan meningkatkan valuasi saham di tengah tekanan pasar.

Awal 2026 menjadi periode sulit bagi pasar modal Indonesia. IHSG mengalami penurunan tajam akibat kekhawatiran investor terhadap penilaian MSCI yang mempertanyakan kestabilan investasi di Tanah Air. Hal ini memicu aksi jual besar-besaran, terutama pada saham-saham blue chip milik konglomerat seperti Prajogo.

Saham BREN dan TPIA, yang sebelumnya menjadi primadona dengan kapitalisasi pasar tinggi, ikut terdampak. BREN, sebagai pemain energi terbarukan, dan TPIA, raksasa petrokimia, mengalami koreksi harga signifikan, membuat valuasi mereka terlihat undervalued di mata pemiliknya.

Detail Aksi Buyback BREN dan TPIA

– BREN: Emiten energi terbarukan ini menyiapkan Rp2 triliun dari kas internal untuk buyback. Ini bukan kali pertama; pada Maret 2025, BREN pernah merealisasikan buyback Rp2 triliun dengan membeli 6 juta saham. Tujuannya jelas: mengurangi jumlah saham beredar, sehingga meningkatkan earnings per share (EPS) dan menarik investor jangka panjang.

– TPIA: Sebagai produsen petrokimia terbesar, TPIA juga mengalokasikan Rp2 triliun untuk buyback, dengan dana dari kas internal. Aksi ini sejalan dengan strategi diversifikasi bisnisnya, termasuk ekspansi ke sektor energi dan infrastruktur.

Kedua emiten ini menggunakan sekuritas seperti BNI Sekuritas untuk eksekusi, dan dana bersumber murni dari internal perusahaan, meski free cash flow BREN hanya Rp1 triliun dan TPIA bahkan negatif Rp2 triliun. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sumber dana, tetapi analis melihatnya sebagai komitmen kuat dari manajemen.

Berikut perbandingan alokasi buyback grup Prajogo:

EmitenAlokasi Dana (Rp)Periode
BREN2 triliun4 Feb – 3 Mei 2026
TPIA2 triliun4 Feb – 3 Mei 2026
BRPT1 triliun4 Feb – 3 Mei 2026
CUAN750 miliar4 Feb – 3 Mei 2026

Prajogo Pangestu, orang terkaya Indonesia dengan kekayaan bersih mencapai US$29,6 miliar menurut Forbes, tidak tinggal diam. Sebagai pemegang kendali Grup Barito, ia merespons dengan menginstruksikan buyback tidak hanya pada BREN dan TPIA, tetapi juga emiten lain seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp1 triliun dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp750 miliar. Total dana yang dialokasikan mencapai Rp5,75 triliun, dengan periode pelaksanaan dari 4 Februari hingga 3 Mei 2026. Ini menambah daftar 26 emiten yang melakukan buyback di periode yang sama, menjadikan grup Prajogo sebagai yang paling aktif.

 

Strategi Prajogo: Lebih dari Sekadar Pertahanan

Di balik buyback berjamaah ini, terdapat strategi Prajogo untuk menjaga valuasi saham. Pertama, buyback mengirim sinyal kuat bahwa manajemen percaya saham undervalued akibat sentimen pasar sementara, bukan fundamental buruk. Kedua, dengan mengurangi saham beredar, valuasi per saham meningkat, potensial rebound harga seperti yang terlihat pada saham BREN yang sempat melesat pasca pengumuman.

 

Agus Salim Pangestu, Presiden Direktur BRPT, menegaskan bahwa keputusan buyback sudah direncanakan sebelum gejolak MSCI, dan fokus tetap pada kinerja bisnis. Analis dari berbagai sumber melihat ini sebagai langkah proaktif untuk menstabilkan portofolio, terutama mengingat Prajogo pernah kehilangan US$9 miliar kekayaan akibat rout saham Januari 2026. Selain itu, buyback massal ini mirip dengan tren global di mana perusahaan seperti Apple atau Berkshire Hathaway menggunakan buyback untuk mengoptimalkan modal.

Dampak dan Prospek ke Depan

Pasca pengumuman, IHSG mulai rebound tipis meski masih dibayangi net sell asing. Saham BREN dan TPIA menunjukkan tanda pemulihan, dengan investor ritel antusias di platform seperti Stockbit dan X (sebelumnya Twitter), di mana diskusi tentang buyback ini ramai dibahas sebagai peluang beli. Namun, isu MSCI tetap menjadi bayang-bayang, dan keberhasilan buyback bergantung pada pemulihan fundamental ekonomi Indonesia.

Secara keseluruhan, strategi Prajogo melalui buyback berjamaah BREN dan TPIA menunjukkan visi jangka panjang: bukan hanya menjaga valuasi, tapi juga memperkuat kepercayaan investor di tengah ketidakpastian. Bagi investor, ini bisa menjadi momen untuk mengevaluasi portofolio, dengan catatan tetap waspada terhadap risiko pasar.


Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *