Deretan perusahaan bank RI sudah merilis kinerja keuangan sepanjang kuartal III/2025, mulai dari perbankan big caps, mid banks, sampai bank digital. Kira-kira siapa yang paling kuat?
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perlambatan pertumbuhan kredit nasional yang hanya 7,7% YoY, sektor perbankan Indonesia menunjukkan performa beragam. Beberapa bank berhasil mencatat pertumbuhan laba, sementara yang lain tertekan oleh kenaikan biaya dana, beban cadangan kerugian (CKPN), dan margin bunga yang menyempit.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis hingga akhir September 2025, kami rekap 12 bank utama: mulai dari empat perbankan big caps yang terdiri dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Berikutnya bank middle caps yang kami rekap ada tiga yaitu PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN). Terakhir, tiga bank digital: PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), dan PT Bank SeaBank Indonesia (dari Sea Group).
Secara keseluruhan, dengan pertumbuhan laba positif dan efisiensi operasional unggul, didukung rasio CASA (Current Account Saving Account) mencapai 83,8%. Sementara itu, bank digital seperti Bank Jago menunjukkan potensi pertumbuhan pesat meski skalanya masih kecil. Berikut analisis lengkapnya.
Big Caps: BBCA Unggul, Bank BUMN Tertekan
Empat bank raksasa ini mendominasi aset dan laba industri, tapi kinerja Q3/2025 terbelah. BBCA mencatatkan laba bersih Rp43,4 triliun, tumbuh signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, berkat NIM stabil di 5,8% dan pertumbuhan kredit moderat 7-8% YoY. Total aset BBCA mencapai Rp1.300 triliun lebih, dengan CAR (Capital Adequacy Ratio) tertinggi 29,9%—menandakan permodalan yang sangat kuat. NPL (Non-Performing Loan) juga terkendali di bawah 2%, membuatnya paling solid di tengah risiko ekonomi.
Sebaliknya, bank BUMN seperti BBRI, BBNI, dan BMRI mengalami kontraksi laba akibat tekanan CKPN dan biaya dana yang naik. BBRI, yang biasanya pemimpin laba, turun tajam karena fokus pada segmen UMKM yang berisiko (NPL 3,08%), meski NIM-nya tertinggi 7,7%. BBNI dan BMRI mencatat pertumbuhan kredit agresif (masing-masing 10,5% dan 11% YoY), dengan DPK (Dana Pihak Ketiga) BBNI melonjak 21,4% YoY, tapi laba masing-masing Rp15,12 triliun (turun dari Rp16,42 triliun) dan Rp37,7 triliun (kontraksi 10,24% YoY).
| Bank | Laba Bersih Q3/2025 (Rp Triliun) | YoY Growth | Pertumbuhan Kredit (YoY) | NIM (%) | NPL (%) | CAR (%) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| BBCA | 43,4 | + (positif) | 7-8% | 5,8 | <2 | 29,9 |
| BBRI | ~32 (estimasi bulanan Agustus) | – (kontraksi) | 7-8% | 7,7 | 3,08 | – |
| BBNI | 15,12 | -7,8% | 10,5% | ~5,1-5,2 | – | – |
| BMRI | 37,7 | -10,24% | 11% | – | 1,19 | 20,1 |
Catatan: Data laba BBRI berdasarkan tren bulanan Agustus 2025; total aset BMRI Rp2.563 triliun (+10,3% YoY).
Middle Caps: BBTN Bersinar, BNGA dan NISP Tertekan
Bank mid caps menunjukkan kinerja campuran. BBTN unggul dengan laba Rp2,3 triliun, tumbuh 10,6% YoY, didorong fokus pada pembiayaan perumahan (KPR) yang stabil di tengah suku bunga tinggi. Pertumbuhan ini melebihi rata-rata industri, dengan aset mencapai Rp300 triliun lebih. Sebaliknya, BNGA dan NISP menghadapi tekanan margin bunga dan kenaikan CKPN, meski pertumbuhan kredit moderat di 8-9% YoY.
BNGA, misalnya, mencatat laba turun tipis karena ekspansi digital yang mahal, sementara NISP bergantung pada segmen korporasi yang lesu.
Secara keseluruhan, segmen ini kurang kompetitif dibanding big caps, tapi BBTN menonjol sebagai “pemenang” mid caps berkat diversifikasi transaksi keuangan.
| Bank | Laba Bersih Q3/2025 (Rp Triliun) | YoY Growth | Pertumbuhan Kredit (YoY) | NIM (%) |
|---|---|---|---|---|
| BNGA | ~1,5 (estimasi) | – (tipis) | 8-9% | – |
| NISP | ~1,2 (estimasi) | – | 8% | – |
| BBTN | 2,3 | +10,6% | 9% (fokus KPR) | – |
Digital Banks: Pertumbuhan Pesat, Tapi Skala Kecil
Bank digital seperti ARTO (Bank Jago), BBYB (Bank Neo Commerce), dan SeaBank menunjukkan momentum kuat, meski laba absolutnya masih jauh di bawah bank konvensional. Fokus pada ekosistem digital (seperti integrasi dengan Gojek untuk Jago atau Shopee untuk SeaBank) mendorong pertumbuhan pengguna Gen Z hingga 57% market share untuk SeaBank. Bank Jago mencatat aset naik menjadi US$936 juta (Rp14 triliun lebih) per Juni 2025, dengan pinjaman US$1,3 miliar—pertumbuhan eksponensial dari US$250 juta di 2022. Laba bersih Q1/2025 Jago Rp19 miliar, dan tren Q3 menunjukkan double-digit growth berkat bunga simpanan kompetitif hingga 7-9%.
SeaBank dan BBYB juga tumbuh pesat di transaksi digital (QRIS, transfer instan), dengan aset SeaBank mencapai Rp10 triliun lebih. Namun, tantangan utama adalah NPL potensial dari pinjaman digital dan ketergantungan pada promo (cashback, festival musik). Meski laba kecil (SeaBank Rp0,23 triliun di Q1), pertumbuhan YoY triple-digit membuatnya menjanjikan untuk 2026.
| Bank Digital | Estimasi Aset Q3/2025 (Rp Triliun) | Pertumbuhan Pinjaman (YoY) | Laba Q1/2025 (Rp Miliar) | User Growth (Gen Z Market Share) |
|---|---|---|---|---|
| Bank Jago (ARTO) | ~14 | + (eksponensial) | 19 | 36% |
| Bank Neo Commerce (BBYB) | ~8-10 | Double-digit | – | – |
| SeaBank | ~10 | + | 231 | 57% |
Siapa yang Terbaik Secara Keseluruhan?
Dari analisis ini, BBCA tetap juara dengan profitabilitas tertinggi, efisiensi CASA unggul, dan ketahanan terhadap risiko—ideal untuk investor stabil. BBTN dan Bank Jago layak diwaspadai sebagai “black horse” masing-masing segmen mid caps dan digital, dengan potensi pertumbuhan di atas 10% YoY. Sementara bank BUMN seperti BMRI dan BBNI kuat di intermediasi kredit, tapi perlu waspada terhadap CKPN yang membengkak.
Prospek ke depan
Dengan BI Rate stabil di 6,25%, bank digital berpotensi erosi pangsa pasar konvensional melalui inovasi, tapi big caps seperti BBCA akan tetap dominan berkat skala. Investor disarankan diversifikasi: 60% big caps untuk stabilitas, 20% mid caps untuk dividen, dan 20% digital untuk growth. Pantau rilis BBRI lengkap untuk konfirmasi tren.