JAKARTA, Investor.id – Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), perusahaan nikel dengan cadangan terbesar, seakan kehilangan taji saat indeks harga saham gabungan (IHSG) mengukir rekor tertinggi di kisaran 8.700. Namun, analis menilai saham MBMA berpotensi meledak, ditopang intervensi kebijakan pemerintah.
Berdasarkan riset Yuanta Sekuritas, pemerintah berniat menerapkan moratorium investasi nikel, meliputi nickel pig iron dan produk nikel kelas 2 lainnya, lalu mixed hydroxide precipitate (MHP), dan nikel matte, untuk meningkatkan nilai tambah nikel produksi Indonesia.
Yuanta percaya, kebijakan ini tidak akan langsung mengerek harga nikel dunia. Sebab, smelter yang sedang dalam tahap konstruksi dikecualikan dari kebijakan itu.
“Selain itu, harga NPI kini turun akibat faktor musiman. Beberapa fasilitas HPAL yang memproduksi MHP beroperasi tahun depan, menambah kapasitas sekitar 500 ribu ton per tahun,” tulis Yuanta dalam riset, dikutip Minggu (14/12/2025).
Namun, dalam jangka panjang, broker ini memprediksi pengetatan ivestasi smelter adalah langkah tepat untuk mengurangi banjir pasokan ke pasar nikel dunia. Hal inilah yang bakal mendongkrak harga nikel, terutama MHP, yang digunakan sebagai material precursor baterai kendaraan listrik.
Pada saat yang sama, Yuanta mencatat, pemerintah berniat membatasi produksi bijih nikel. Ini bakal menjaga harga bijih nikel tetap premium, mencapai US$ 20 per ton.