Sentimen Publik terhadap Ekonomi Makro Mulai Membaik, Tantangan Daya Beli Masih Jadi Perhatian

10/13/2025 — sahamcryptobagus@gmail.com, Saham Bagus TeamSahambagus Yunus

Jakarta, sahambagus.co.id – Sentimen publik terhadap kondisi ekonomi makro Indonesia menunjukkan tren perbaikan dalam beberapa bulan terakhir, didorong oleh stabilitas inflasi dan optimisme pada sektor investasi. Namun, tantangan terkait daya beli masyarakat dan harga sejumlah komoditas pangan masih menjadi perhatian utama yang menggelayuti benak publik.

Hal ini terungkap dari hasil survei terbaru yang dirilis oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada awal November 2023. Survei tersebut menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik ke level 125,6, masuk dalam kategori “optimis”. Angka ini lebih tinggi dibandingkan posisi pada kuartal sebelumnya.

Stabilitas Inflasi dan Bantuan Sosial Jadi Pendorong

Analis ekonomi dari Center for Strategic and Policy Studies, Arief Budiman, menyatakan bahwa perbaikan sentimen ini tidak lepas dari keberhasilan pemerintah dalam mengendalikan laju inflasi.

“Inflasi yang terkendali di sekitar kisaran target Bank Indonesia, yaitu 2-4%, telah memberikan rasa aman kepada masyarakat. Harga-harga kebutuhan pokok, meski masih tinggi, tidak lagi mengalami gejolak yang signifikan seperti tahun lalu,” ujar Arief kepada sahambagus.co.id, Selasa (21/11).

Selain itu, lanjutnya, program bantuan sosial (bansos) dari pemerintah, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan subsidi listrik, dinilai efektif menjadi bantalan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dalam menghadapi tekanan ekonomi global yang masih tidak menentu.

Tantangan Daya Beli dan Harga Pangan Masih Membayangi

Di balik optimisme tersebut, survei juga mencatat bahwa publik masih sangat sensitif terhadap harga-harga komoditas pangan, seperti beras, minyak goreng, dan cabai. Fluktuasi harga yang kerap terjadi di tingkat pasar tradisional langsung dirasakan oleh sebagian besar masyarakat.

“Saya rasa secara umum kondisi lebih stabil, tapi ya tetap harus hemat. Kalau belanja ke pasar, masih merasa uang cepat habis. Harga cabai dan bawang itu suka bikin kaget,” ungkap Sari, seorang ibu rumah tangga di kawasan Jakarta Selatan.

Tantangan daya beli ini juga diamini oleh pengusaha mikro, Iwan, yang menjual peralatan rumah tangga. “Omset ada kenaikan, tapi tidak drastis. Masyarakat masih berpikir dua kali untuk beli barang yang tidak benar-benar mendesak. Mereka lebih memprioritaskan untuk kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.

Proyeksi ke Depan: Optimisme Hati-hati di Tengah Ketidakpastian Global

Ke depan, para ekonom memproyeksikan sentimen publik akan tetap positif namun disertai kehati-hatian. Faktor eksternal, seperti perlambatan ekonomi global dan konflik geopolitik, berpotensi mempengaruhi stabilitas ekonomi dalam negeri.

“Kunci utama menjaga sentimen positif ini adalah konsistensi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan. Selain itu, percepatan penyerapan anggaran untuk proyek padat karya dan program penguatan UMKM akan sangat penting untuk mendongkrak daya beli di level akar rumput,” pungkas Arief Budiman.

Dengan demikian, meski angin segar mulai berhembus, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dituntut untuk terus bekerja keras memperkuat fondasi ekonomi domestik agar optimisme masyarakat dapat berlanjut dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.


Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *