JAKARTA – PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mengungkap laba kuartal III 2025 melonjak nyaris 10 kali lipat, atau naik 818,9% secara tahunan menjadi Rp19,37 miliar pada akhir September 2025.
Hal ini sejalan dengan pendapatan yang meroket 194,7% menjadi Rp68,60 miliar per September 2025, didukung jasa penyedia layanan internet (internet service provider/ISP) yang tumbuh 188,45%, dan segmen konstruksi menghasilkan pendapatan Rp1,45 miliar untuk pertama kalinya.
Secara kuartalan pun, laba bersih INET naik dua kali lipat, dari sekitar Rp6 miliar pada kuartal 2 menjadi Rp12 miliar pada kuartal 3, meski pendapatan merosot dari Rp33 miliar menjadi Rp24 miliar.
Secara kinerja saham, harga saham INET ditutup melemah di akhir pekan, Jumat (19/12), merosot ke Rp725 per lembar setelah turun 14,71% dalam sehari, dan menyentuh batas auto-reject bawah (ARB).
Padahal, per Jumat (19/12) kemarin, INET baru saja keluar dari Papan Pemantauan Khusus yang membuat sahamnya diperdagangkan dengan sistem Full Call Auction (FCA) sejak Rabu pekan lalu (10/12).
Berdasarkan data IDNFinancials.com, perdagangan saham dan INET dihentikan sementara (suspensi) sejak awal Desember, Kamis (4/12), karena peningkatan harga kumulatif yang signifikan.
Sejak awal tahun, saham INET memang sudah melesat 893,15%, dengan lonjakan paling signifikan terjadi sejak awal November, tercatat mencapai 157,09%.
Hal ini terjadi seiring beberapa rencana aksi korporasi INET, termasuk akuisisi PT Personil Alih Daya Tbk (PADA) dan PT Trans Hybrid Communication (THC), rencana rights issue, serta rencana penerbitan obligasi Rp1 triliun.