ARCI Masuk Arena Geothermal: Diversifikasi Peter Sondakh ke Energi Bersih melalui Proyek PSN Toka Tindung
Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – Di tengah gejolak harga emas global yang menguntungkan, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), emiten pertambangan milik konglomerat Peter Sondakh, tak tinggal diam. Perusahaan ini kini aktif merambah sektor energi terbarukan melalui pengembangan panas bumi (geothermal) via PT Toka Tindung Geothermal (TTG), joint venture dengan PT Ormat Geothermal Indonesia. Proyek ini telah mengantongi Izin Panas Bumi (IPB) dan ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), menandai langkah strategis ARCI untuk diversifikasi portofolio di luar emas. Investor Relation ARCI, Fredric, optimistis bahwa inisiatif ini akan memperkuat posisi perusahaan dalam transisi energi nasional.
ARCI, yang dikenal sebagai salah satu produsen emas terbesar di Asia Tenggara, telah beroperasi lebih dari 13 tahun di Tambang Emas Toka Tindung, Sulawesi Utara. Namun, sejak 2021, perusahaan mulai menjajaki geothermal sebagai sinergi alami dari aset lahan konsesi tersebut. Kerja sama dengan Ormat Technologies Inc.—pemain global di bidang geothermal—dimulai melalui penandatanganan joint venture, yang akhirnya membentuk TTG pada Juni 2025. Komposisi kepemilikan TTG mayoritas dipegang Ormat (75-95%), sementara ARCI menyertakan porsi minoritas (5-25%), memungkinkan akses ke teknologi canggih tanpa beban investasi penuh.
Pada Juni 2025, TTG resmi memperoleh IPB untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Toka Tindung di Bitung, Sulawesi Utara—sebuah milestone yang disambut Menteri ESDM sebagai bagian dari PSN. Status PSN ini memberikan kemudahan regulasi, seperti percepatan perizinan dan insentif fiskal, selaras dengan target pemerintah untuk capai 23% bauran energi terbarukan pada 2025.
Fokus utama TTG adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas 40 Megawatt (MW) terpasang di kawasan Toka Tindung. Proyek ini memanfaatkan potensi panas bumi di area konsesi tambang emas ARCI, yang diperkirakan memiliki cadangan hingga 30-40 MW. Tahap awal mencakup eksplorasi lanjutan, pengeboran, dan konfirmasi sumber daya, dengan target operasional komersial pada akhir 2025 atau awal 2026.
Dukungan eksternal menjadi kunci sukses: PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) melalui program Geothermal Resource Risk Mitigation (GREM) bekerja sama dengan World Bank, menyediakan pembiayaan mitigasi risiko hingga US$202,5 juta (Rp3,1 triliun) untuk eksplorasi. “Kolaborasi ini mempercepat eksplorasi dan infrastruktur energi bersih, sekaligus mendukung transisi energi Indonesia,” ujar Fredric. Direktur Utama ARCI, Rudy Suhendra, menambahkan bahwa proyek ini selaras dengan strategi diversifikasi sejak 2024, tanpa mengganggu fokus utama pada emas.
| Aspek Proyek | Detail |
|---|---|
| Kapasitas Target | 40 MW PLTP |
| Lokasi | Toka Tindung, Bitung, Sulawesi Utara |
| Status Perizinan | IPB diperoleh Juni 2025; PSN disetujui |
| Investasi Eksplorasi | US$202,5 juta (Rp3,1 triliun) |
| Mitra Utama | Ormat Geothermal (75-95%); ARCI (5-25%) |
| Dukungan | SMI-GREM-World Bank |
Partisipasi ARCI di geothermal bukan hanya diversifikasi, tapi juga sinergi. Proyek ini memanfaatkan infrastruktur tambang existing untuk akses lahan, mengurangi biaya logistik. Secara ekonomi, PLTP 40 MW berpotensi suplai listrik untuk 30.000-40.000 rumah tangga, ciptakan ribuan lapangan kerja di Sulawesi Utara, dan kontribusi ke PDB regional melalui royalti dan pajak. Lingkungan, geothermal sebagai EBT rendah emisi mendukung target Net Zero Emission 2060, plus rehabilitasi lahan pasca-tambang.
Kinerja ARCI tahun ini mendukung ambisi ini: Hingga Q3 2025, produksi emas melebihi 100 koz (lebih tinggi dari seluruh 2024), dengan laba bersih US$71 juta—balik dari rugi US$4 juta tahun lalu. Fredric menargetkan pertumbuhan produksi emas 25%, peningkatan gold recovery, dan realisasi proyek underground, sambil ekspansi geothermal.
Meski menjanjikan, proyek TTG hadapi tantangan seperti biaya eksplorasi tinggi dan ketergantungan cuaca Sulawesi. Namun, dukungan PSN dan mitra global seperti Ormat—yang punya pengalaman di Sarulla—mengurangi risiko. Ke depan, ARCI berpotensi ekspansi ke WKP lain, selaras dengan lelang geothermal pemerintah 2025.
Langkah ARCI ke geothermal melalui TTG menunjukkan visi Peter Sondakh: Dari emas ke energi bersih, mendukung hilirisasi EBT nasional. Dengan IPB dan status PSN, proyek 40 MW ini berpotensi jadi katalis pertumbuhan ARCI, tingkatkan valuasi saham di tengah tren hijau. Bagi investor, ARCI layak pantau—diversifikasi ini tak hanya “panas” secara harfiah, tapi juga prospektif jangka panjang.





💬 Diskusi & Komentar