⚖️ Sentimen Pasar: Netral

Di Balik Aksi Borong Asing untuk Saham MINA dan BUVA Milik Happy Hapsoro

November 18, 2025  •  mahmud yunus

SAHAMBAGUS.CO.ID-Pasar saham Indonesia kembali mencatatkan euforia di tengah sentimen positif global dan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hampir menyentuh all-time high (ATH) pada sesi perdagangan Senin (17/11/2025), dengan total transaksi mencapai Rp11,03 triliun. Di balik kenaikan tersebut, investor asing menunjukkan minat kuat terhadap saham-saham properti dan perhotelan, khususnya emiten milik pengusaha kawakan Happy Hapsoro. Saham PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) mendominasi daftar net buy asing, mencerminkan kepercayaan terhadap potensi sektor pariwisata Bali yang terus menggeliat.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis melalui Stockbit Sekuritas, saham MINA menempati posisi teratas dengan volume net buy asing sebanyak 88,98 juta lembar, disusul BUVA dengan 39,20 juta lembar. Aksi borong ini tidak hanya mendorong harga saham melonjak, tetapi juga menandai kembalinya minat asing ke sektor properti pasca-pandemi. Pada sesi I perdagangan Senin, MINA sempat melesat hingga 30% ke Rp234 per saham, sementara BUVA naik 11,36% ke Rp980. Total net buy asing secara keseluruhan mencapai Rp523,1 miliar, dengan MINA dan BUVA sebagai kontributor utama.

Profil Happy Hapsoro: Pengusaha Strategis di Balik Emiten Properti

Happy Hapsoro, atau Hapsoro Sukmonohadi, bukan nama asing di kalangan pelaku pasar modal Indonesia. Sebagai suami dari Ketua DPR RI Puan Maharani, Hapsoro dikenal sebagai pebisnis ulung yang fokus pada sektor energi, properti, dan perhotelan. Gurita bisnisnya mencakup PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) di bidang distribusi gas, serta sejumlah emiten properti seperti MINA dan BUVA. Melalui entitas investasinya seperti PT Basis Utama Prima, Hapsoro menguasai hampir seperlima saham MINA (sekitar 19,68%) dan 7,91% saham BUVA secara langsung, ditambah kepemilikan tidak langsung yang membuatnya menjadi pengendali utama.

Strategi Hapsoro dalam berinvestasi selalu berbasis aset riil dan sektor strategis. Ia sering melakukan aksi korporasi seperti rights issue untuk memperkuat posisi, seperti yang terlihat pada MINA di mana ia menyuntik modal hingga 145,74 juta lembar saham baru pada Juli 2025, meningkatkan porsinya menjadi 19,66%. Pendekatan jangka panjang ini telah menghasilkan cuan fantastis: sejak awal 2025, saham BUVA naik 692,98% dan MINA 287,69%, menjadikannya salah satu portofolio paling fenomenal di BEI.

Bisnis MINA: Potensi Lahan Strategis di Sanur Bali

PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), didirikan pada 1993 dan berbasis di Jakarta Selatan, berfokus pada pengembangan properti subsidi, resor, dan pengelolaan cottage di Bali serta Boyolali, Jawa Tengah. Emiten ini juga memiliki aset premium seperti villa mewah Santai di Sanur, Bali, yang menjadi magnet bagi wisatawan kelas atas. Lahan seluas 4 hektare di kawasan strategis Sanur menjanjikan pengembangan lebih lanjut menjadi resort atau pusat komersial, seiring tren pariwisata yang diproyeksikan tumbuh 7-9% pada 2025.

Meski sempat pasif selama delapan tahun, Hapsoro mengambil kendali penuh sejak 2022 melalui akuisisi bertahap. Pada Agustus 2025, MINA bahkan masuk papan pemantauan khusus Full Call Auction (FCA) BEI karena kenaikan harga kumulatif lebih dari 300% sejak awal tahun. Fundamental kuat MINA, termasuk rencana ekspansi, menjadi daya tarik bagi asing yang mencari exposure di sektor real estate Bali.

BUVA: Pengelola Hotel Mewah Alila yang Melejit 1.500%

Sementara itu, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) dikenal sebagai pengembang hotel dan resor ramah lingkungan, terutama melalui jaringan Alila di Bali dan destinasi wisata premium lainnya. Hapsoro masuk sebagai pemegang saham mayoritas melalui PT Nusantara Utama Investama pada 2023 via private placement, dan kini mengendalikan sekitar 1,62 miliar saham. Kinerja BUVA luar biasa: laba bersih Januari-September 2025 mencapai Rp108,58 miliar, melonjak 662% YoY, didukung pendapatan Rp288,70 miliar dan total aset Rp2,04 triliun.

Lonjakan harga saham BUVA mencapai 1.500% sejak awal 2025, dari Rp58 menjadi Rp915 pada Oktober, ditopang rights issue tahap I senilai 4,03 miliar saham baru (16,36% dilusi). Aksi ini tidak hanya memperkuat ekuitas hingga Rp1,45 triliun, tapi juga menarik net buy asing Rp14,06 miliar pada periode tersebut. Dengan okupansi hotel yang pulih pasca-pandemi dan ekspansi ke resor berkelanjutan, BUVA menjadi favorit investor institusional.

Apa yang Mendorong Minat Asing?

Aksi borong asing pada MINA dan BUVA bukan kebetulan. Beberapa faktor utama meliputi:

  • Pemulihan Pariwisata Bali: Kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali diprediksi mencapai 6,5 juta pada akhir 2025, mendorong permintaan aset properti dan hotel premium.
  • Fundamental Solid: Laba BUVA yang ngacir dan aset lahan MINA memberikan valuation menarik, dengan PER (Price Earning Ratio) di bawah rata-rata sektor.
  • Sentimen Global: Kenaikan IHSG 0,76% pada sesi I Senin mencerminkan optimisme asing terhadap emerging market Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
  • Reputasi Hapsoro: Nama besar Hapsoro sebagai investor jangka panjang menambah kepercayaan, mirip efek “Halo” pada saham RAJA yang juga naik 276,60% YTD.

Data dari X (sebelumnya Twitter) menunjukkan diskusi hangat di kalangan trader, dengan akun @Stockbit melaporkan MINA dan BUVA sebagai top pick asing pada mid-day 17 November. Namun, volatilitas tetap menjadi risiko, terutama dengan potensi koreksi IHSG jika suku bunga global naik.

Prospek ke Depan: Peluang dan Tantangan

Dengan net buy asing yang kuat, MINA dan BUVA berpotensi melanjutkan tren bullish. Analis memproyeksikan target harga MINA Rp250 dan BUVA Rp1.100 dalam tiga bulan, didukung rencana ekspansi Hapsoro. Namun, investor ritel disarankan waspada terhadap euforia: saham properti sensitif terhadap fluktuasi rupiah dan regulasi pariwisata.

Bagi pemodal di Kanal Sahambagus.co.id, saham-saham ini layak masuk watchlist untuk portofolio jangka menengah. Di balik angka-angka impresif, kisah sukses Happy Hapsoro mengingatkan bahwa investasi cerdas berawal dari pemahaman mendalam terhadap aset dan tren pasar.

Artikel ini disusun berdasarkan data BEI dan sumber terpercaya per 18 November 2025. Investasi mengandung risiko; lakukan due diligence sebelum bertransaksi.



💬 Diskusi & Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *

Masuk ke Akun

Belum punya akun? Daftar sekarang