⚖️ Sentimen Pasar: Netral

Emas Melemah Setelah Gagal Bertahan di Atas $4.000: Investor Hati-Hati di Tengah Shutdown AS, Mata ke Pernyataan Pejabat Fed

November 7, 2025  •  mahmud yunus

Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – Harga emas global mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis (6/11/2025) setelah upaya gagal mempertahankan kenaikan di atas level psikologis $4.000 per ounce. Spot gold (XAU/USD) sempat menyentuh puncak $4.019,66 di sesi awal, didorong pelemahan dolar AS dan kekhawatiran atas shutdown pemerintah AS yang berkepanjangan, namun akhirnya terkoreksi ke bawah $4.000, ditutup di kisaran $3.995 per ounce. Penurunan ini mencerminkan hati-hati investor terhadap ketidakpastian ekonomi, meski aset safe-haven seperti emas tetap mendapat dukungan dari situasi geopolitik dan data pekerjaan yang lemah.

Lonjakan singkat di atas $4.000 dipicu oleh penurunan yield Treasury AS dan pengurangan ekspektasi kenaikan suku bunga, tetapi momentum bullish memudar akibat penguatan dolar pasca-aktivitas jual di Wall Street. Analis FXStreet mencatat bahwa emas kehilangan sebagian “froth” (gelembung) dari kenaikan sebelumnya, meski tetap naik 53% sepanjang 2025.

Pada sesi Eropa, emas sempat reclaim $4.000 berkat dolar yang lebih lemah, tetapi gagal bertahan setelah data non-resmi menunjukkan pemangkasan 150.000 pekerjaan di Oktober—terbesar dalam 20 tahun. Ini memicu repricing peluang pemotongan suku bunga Fed Desember menjadi 69%, naik dari 62% sehari sebelumnya. Namun, kekhawatiran stagflasi dan ketergantungan Fed pada data resmi yang tertunda akibat shutdown membatasi kenaikan lebih lanjut.

Penurunan lebih dari 1% dari puncak Oktober ($4.356) menunjukkan konsolidasi, dengan RSI (Relative Strength Index) berada di level terendah sejak Februari, mengindikasikan momentum bullish melemah.

Shutdown pemerintah AS memasuki minggu keenam—terpanjang dalam sejarah, melebihi 35 hari era Trump pertama—menyebabkan penundaan data ekonomi krusial seperti non-farm payrolls (NFP) dan ISM services. Hal ini memicu kekhawatiran layoff massal dan dampak pada kinerja ekonomi, mendorong aliran dana ke aset safe-haven. Laporan Challenger menegaskan pemotongan pekerjaan terbesar di Oktober, memperkuat narasi perlambatan ekonomi.

Meski demikian, para investor tetap waspada terhadap potensi stagflasi dan ketidakpastian kebijakan Fed di tengah shutdown. World Gold Council (WGC) melaporkan permintaan emas AS melonjak 58% YoY menjadi 186 ton di Q3/2025, didorong inflow ETF mencapai 137 ton—62% dari total global. Pusat pembelian bank sentral (634 ton YTD) juga menjadi penopang struktural.

Perhatian pasar kini tertuju pada pernyataan dari pejabat Federal Reserve pada akhir hari Kamis, termasuk Cleveland Fed Beth Hammack yang mempertahankan nada hawkish, serta Chicago Fed Austan Goolsbee yang menekankan kehati-hatian atas pemotongan suku bunga lebih lanjut akibat kurangnya data inflasi resmi selama shutdown. Pernyataan ini diharapkan memberikan petunjuk atas jalur kebijakan moneter, terutama peluang rate cut Desember yang kini di bawah 90% dari seminggu lalu.

Ketua Fed Jerome Powell sebelumnya menyatakan bahwa pemotongan tambahan “bukan hal yang pasti,” sementara Dallas Fed Lorie Logan mendesak kehati-hatian. Analis High Ridge Futures David Meger menilai penguatan dolar baru-baru ini—akibat ekspektasi rate cut yang memudar—menjadi beban bagi emas. UBS memproyeksikan potensi rebound ke $4.200 jika easing Fed berlanjut, tapi konsolidasi di $3.950-$4.050 kemungkinan besar terjadi jangka pendek.

Pelemahan emas ini menawarkan peluang akumulasi bagi investor jangka panjang, terutama dengan ketegangan AS-China yang memanas pasca-kembalinya Trump ke Gedung Putih—termasuk ancaman tarif 60% terhadap China. Namun, risiko dari dolar kuat dan yield obligasi tinggi tetap mengintai. Di pasar domestik, harga emas Antam stabil di Rp1.380.000 per gram (naik 0,5% WoW), didukung permintaan safe-haven lokal.

“Emas tetap jadi lindung nilai utama di tengah ketidakpastian, tapi sinyal Fed hawkish bisa perpanjang koreksi,” ujar Eren Sengezer, analis FXStreet. Investor disarankan pantau data ADP dan ISM untuk konfirmasi tren.

Emas mungkin goyah hari ini, tapi di era shutdown dan geopolitik panas, statusnya sebagai safe-haven tak tergoyahkan.



💬 Diskusi & Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *

Masuk ke Akun

Belum punya akun? Daftar sekarang