⚖️ Sentimen Pasar: Netral

Garuda Indonesia (GIAA) Rencanakan Private Placement Rp23,67 Triliun: Langkah Penyelamatan di Tengah Rugi Membengkak Q3-2025

November 9, 2025  •  mahmud yunus

Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), maskapai pelat merah yang terus bergulat dengan tantangan keuangan, mengumumkan rencana ambisius untuk menerbitkan 315,61 miliar saham baru seri D melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Dengan nilai nominal Rp75 per saham, aksi korporasi ini diproyeksikan mengumpulkan dana Rp23,67 triliun, yang akan diserap sepenuhnya oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Pengumuman ini menjadi titik terang bagi GIAA, yang per kuartal III-2025 mencatat rugi bersih US$182,53 juta atau sekitar Rp3,03 triliun—membengkak 39,10% secara year-on-year (YoY).

Langkah ini merupakan kelanjutan dari restrukturisasi keuangan GIAA sejak 2022, di mana perusahaan berhasil memangkas utang dari US$10 miliar menjadi US$5 miliar. Namun, di tengah pemulihan pasca-pandemi dan fluktuasi harga bahan bakar, GIAA masih menghadapi ekuitas negatif dan beban operasional tinggi.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 November 2025, GIAA akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 12 November 2025 untuk menyetujui aksi ini. Dana hasil PMTHMETD dibagi menjadi dua skema utama: setoran modal tunai sebesar Rp17,02 triliun (US$1,03 miliar) dan konversi shareholder loan (SHL) senilai Rp6,65 triliun (US$405 juta) menjadi saham baru. Nilai total ini lebih rendah dari rencana awal Rp30,31 triliun, setelah Danantara memangkas porsi suntikannya untuk menyesuaikan dengan kondisi pasar.

Alokasi dana difokuskan pada penyehatan aset dan likuiditas  seperti

perawatan dan perbaikan pesawat, termasuk Rp111,34 miliar dari SHL dan Rp6,88 triliun untuk pesawat yang jatuh tempo pada 2025-2026. Sebanyak 63% (Rp14,90 triliun) untuk peningkatan modal ke anak usaha Citilink Indonesia melalui konversi pinjaman dan setoran tunai.

Tujuannya adalah memperbaiki ekuitas konsolidasi, likuiditas, dan struktur permodalan, serta mengurangi liabilitas untuk mendukung keberlangsungan usaha jangka panjang. Pasca-transaksi, kepemilikan publik akan terdilusi drastis dari sekitar 27% menjadi 6,17%, sementara Danantara akan menguasai lebih dari 92% saham GIAA.

Kinerja keuangan GIAA per 30 September 2025 semakin memerah. Pendapatan usaha turun 6,7% YoY menjadi US$2,39 miliar dari US$2,56 miliar, tertekan oleh penurunan penumpang dan kargo akibat kompetisi ketat di rute domestik dan internasional. Beban usaha memang menyusut menjadi US$2,28 miliar (dari US$2,38 miliar), tapi rugi sebelum pajak melonjak 42,98% YoY menjadi US$211,71 juta.

Dari sisi neraca, aset GIAA mencapai US$6,75 miliar, tapi liabilitas membengkak menjadi US$8,29 miliar—terdiri dari utang jangka pendek US$3,37 miliar dan jangka panjang US$4,92 miliar. Rasio liabilitas terhadap aset mencapai 123%, dengan ekuitas negatif US$1,53 miliar. Utang pajak US$176 juta dan utang berelasi US$6,65 triliun menjadi beban utama, meski sebagian akan dikonversi pasca-private placement.

Reaksi pasar terhadap pengumuman ini campur aduk. Saham GIAA sempat melonjak 10% ke Rp88 pada Oktober 2025 pasca-rumor suntikan Rp30 triliun, tapi kini tertekan di Rp80-an akibat kekhawatiran dilusi. Analis CNBC Indonesia memproyeksikan valuasi pasca-transaksi mencapai Rp39,33 triliun, dengan harga wajar Rp426 per saham—upside 400% dari level saat ini, meski bergantung pada eksekusi.

Proforma pasca-private placement, aset GIAA diprediksi naik menjadi US$7,95 miliar, liabilitas turun ke US$7,6 miliar, dan ekuitas berbalik positif. Ini akan mendukung ekspansi rute ke Asia Tenggara dan perbaikan fleet, selaras dengan target pemerintah untuk industri penerbangan berkelanjutan. Namun, tantangan seperti kenaikan biaya avtur dan kompetisi dari low-cost carrier tetap ada.

Direktur Utama GIAA, Wamildan Tsani, menekankan bahwa suntikan ini bukan untuk ekspansi agresif, melainkan fondasi keuangan yang solid untuk bertahan di pasar yang volatil.

Rencana private placement Rp23,67 triliun melalui 315,61 miliar saham baru menjadi harapan baru bagi GIAA untuk keluar dari jurang rugi Q3-2025 yang mencapai Rp3,03 triliun. Di balik dilusi saham yang signifikan, aksi ini menjanjikan perbaikan ekuitas dan likuiditas, mendukung visi Garuda sebagai bendera pembawa negara. Dengan dukungan Danantara, GIAA berpotensi ‘terbang’ kembali—tapi investor harus siap dengan volatilitas RUPSLB 12 November. Pantau keterbukaan informasi selanjutnya untuk update eksekusi!



💬 Diskusi & Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *

Masuk ke Akun

Belum punya akun? Daftar sekarang