⚖️ Sentimen Pasar: Netral

Geger Telekomunikasi! Duet Ekamas MORA & Surge WIFI Ledakkan Pasar dengan Internet 5G FWA Unlimited Rp100 Ribu, Kompetitor Ketar-Ketir!

Desember 20, 2025  •  mahmud yunus

SAHAMBAGUS.CO.ID-Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital di Indonesia, industri telekomunikasi kembali diramaikan dengan kabar besar: merger antara PT Mora Telematika Indonesia Tbk (Moratelindo, dengan kode saham MORA) dan PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia). Merger ini tidak hanya menciptakan entitas baru yang lebih kuat, tetapi juga membuka babak baru dalam penyediaan layanan internet murah berbasis Fixed Wireless Access (FWA) 5G. Duet antara perusahaan hasil merger, yang dikenal sebagai Ekamas Mora Republik, dengan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (Surge, dengan kode saham WIFI) diharapkan mewarnai pasar internet tetap di Tanah Air, khususnya dengan fokus pada aksesibilitas dan harga terjangkau.

Latar Belakang Merger Moratelindo dan MyRepublic

Merger ini diumumkan pada akhir 2025, dengan Moratelindo sebagai entitas bertahan yang akan berganti nama menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk. Prosesnya telah disetujui oleh direksi dan dewan komisaris kedua perusahaan, dan menunggu persetujuan dari regulator serta pemegang saham. Target penyelesaian merger adalah semester pertama 2026, atau awal tahun tersebut.

Tujuan utama merger adalah mentransformasi kedua perusahaan menjadi penyedia infrastruktur dan layanan digital terintegrasi terdepan di Indonesia. Dengan menggabungkan kekuatan, entitas baru ini akan berada di garis depan masa depan digital Tanah Air, menyediakan layanan yang lebih stabil, cepat, dan luas. Sinergi ini juga diharapkan menciptakan efisiensi finansial berkelanjutan melalui optimalisasi biaya operasional, penghindaran duplikasi belanja modal, serta pemanfaatan aset jaringan dari backbone hingga last mile.

Moratelindo membawa pengalaman panjang sejak 2000 sebagai Penyedia Akses Jaringan (NAP) dan Penyedia Layanan Internet (ISP), dengan jaringan tulang punggung telekomunikasi (fiber optic backbone) terbesar di Indonesia. Hingga September 2025, Moratelindo memiliki lebih dari 57.000 km kabel serat optik, 6 data center berkapasitas 3,3 megawatt, lebih dari 16.800 pelanggan enterprise, hampir 1 juta total homepass, dan lebih dari 296.000 pelanggan ritel.

Sementara itu, MyRepublic Indonesia dikenal sebagai penyedia jaringan fiber to the home (FTTH) terdepan. Per September 2025, perusahaan ini memiliki lebih dari 58.000 km kabel serat optik, lebih dari 8,7 juta homepass, dan melayani lebih dari 1,52 juta pelanggan ritel dengan kecepatan internet hingga 1 Gbps.

Setelah merger, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), bagian dari Grup Sinarmas, akan menjadi pemegang saham pengendali secara tidak langsung, memperkuat posisi strategis perusahaan baru ini di pasar.

Kolaborasi dengan Surge (WIFI) untuk Internet Murah Berbasis FWA 5G

Merger ini menjadi fondasi bagi duet Ekamas Mora Republik dengan Surge (WIFI), yang bersama-sama menggarap pasar internet murah. Keduanya berhasil memenangkan lelang spektrum frekuensi 1,4 GHz yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada Oktober 2025. MyRepublic menang di Wilayah II (Sumatera dan Nusa Tenggara) dengan bid Rp300,888 miliar dan Wilayah III (Sulawesi dan Kalimantan) dengan Rp100,888 miliar. Sementara Surge, melalui anak usahanya PT Telemedia Komunikasi Pratama, menang di Wilayah I (Jawa, Papua, dan Maluku) dengan bid Rp403,764 miliar. Masing-masing mendapatkan 80 MHz spektrum untuk 10 tahun operasi.

Teknologi yang digunakan adalah 5G FWA, yang memungkinkan koneksi internet melalui router WiFi yang terhubung ke jaringan 5G tanpa perlu kabel fisik ke rumah. Ini menjadi solusi ideal untuk area underserved atau sulit dijangkau oleh infrastruktur fiber optic tradisional. Frekuensi 1,4 GHz memungkinkan cakupan lebih luas dengan lebih sedikit menara, sehingga mengurangi biaya dan mempercepat penyebaran.

Layanan ini dijuluki “Internet Rakyat” dan ditargetkan menyediakan kecepatan minimal 100 Mbps dengan harga sekitar Rp100.000 per bulan, tanpa batas kuota data (unlimited). Surge bahkan berencana menawarkan paket 200 Mbps dengan harga serupa. Peluncuran dijadwalkan pada 2026, dengan target 20 juta koneksi rumah tangga di seluruh Indonesia. Surge juga bermitra dengan Huawei dan OREX SAI untuk implementasi teknologi ini, termasuk penggunaan perangkat Nokia untuk router point-to-point.

Dampak terhadap Pasar Internet Tetap

Duet ini diprediksi akan mewarnai pasar internet tetap di Indonesia, terutama dengan menantang dominasi operator seperti Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata. Layanan 5G FWA murah ini berpotensi mengganggu pasar mobile broadband, khususnya di daerah pedesaan atau pinggiran kota di mana akses internet masih mahal atau terbatas. Analis memperkirakan adanya penurunan harga secara keseluruhan, mendorong kompetisi yang lebih sehat dan peningkatan penetrasi internet nasional.

Namun, ada tantangan seperti potensi kebijakan Fair Usage Policy (FUP) yang membatasi kecepatan setelah kuota tertentu, kualitas layanan di area padat penduduk, dan keterlambatan instalasi. Di sisi lain, keterlibatan tokoh seperti Hashim Djojohadikusumo sebagai pemegang saham utama Surge menambah dimensi strategis, meski ada kekhawatiran terkait transparansi.

Secara keseluruhan, inisiatif ini sejalan dengan visi pemerintah untuk internet merata dan terjangkau, berpotensi mempercepat transformasi digital Indonesia menuju masyarakat yang lebih terkoneksi. Dengan infrastruktur gabungan yang masif, Ekamas Mora Republik dan Surge siap menjadi pemain kunci dalam era internet murah berbasis 5G.



💬 Diskusi & Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *

Masuk ke Akun

Belum punya akun? Daftar sekarang