Hanya 4 dari 15 Saham BUMN yang Diproyeksikan Tumbuh Laba Positif di 2025
Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – Di tengah tantangan ekonomi global dan fluktuasi komoditas, prospek laba saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk 2025 terlihat beragam. Berdasarkan konsensus analis dari berbagai lembaga riset seperti Mikirduit dan Ciptadana Sekuritas, dari 15 saham BUMN utama yang dipantau, hanya 4 yang diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan laba bersih positif. Yang lebih menarik, 3 di antaranya—PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)—berpotensi membagikan dividen menarik, menjadikannya pilihan utama bagi investor yang mencari imbal hasil stabil di tengah volatilitas pasar.
Proyeksi ini didasarkan pada data kinerja kuartal III/2025 dan asumsi makroekonomi seperti pertumbuhan PDB Indonesia 5,2% serta stabilisasi harga komoditas. Meski mayoritas BUMN seperti bank jumbo (BBRI, BMRI) dan emiten energi menghadapi tekanan NIM (Net Interest Margin) dan biaya operasional, empat emiten ini menonjol berkat efisiensi operasional dan dukungan sektor spesifik.
Dari pemantauan 15 saham BUMN (termasuk bank, tambang, dan infrastruktur), mayoritas diproyeksikan mengalami stagnasi atau penurunan laba akibat faktor eksternal seperti pelemahan harga batubara dan kenaikan biaya kredit. Namun, empat saham positif ini memberikan harapan bagi portofolio defensif.
| Emiten | Proyeksi Pertumbuhan Laba 2025 | Potensi Dividen Yield | Sektor |
|---|---|---|---|
| ANTM | +95% | 10,14% | Tambang |
| BBTN | +22,43% | 5,39% | Perbankan |
| BRIS | Stabil (+5-10%) | ~1% | Perbankan Syariah |
| (Satu saham lain, non-dividen) | Positif (tidak disebutkan) | – | – |
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi sorotan utama dengan proyeksi pertumbuhan laba bersih tertinggi, mencapai 95% menjadi Rp295 per saham. Kenaikan ini didorong lonjakan bisnis nikel dan emas, di mana produksi bijih nikel ditargetkan naik 51% menjadi 15 juta ton dan penjualan 44% menjadi 13 juta ton. Harga emas global yang stabil di atas US$2.600 per ounce pasca-konflik geopolitik turut mendukung.
Selain itu, ANTM berpotensi membagikan dividen yield hingga 10,14%, dengan payout ratio historis hingga 100% seperti pada 2024 (Rp151,77 per saham, total Rp3,6 triliun). Analis JP Morgan merevisi proyeksi laba 2025 menjadi Rp5,4 triliun (+49% YoY), menjadikan ANTM sebagai “superstar” bagi investor dividen. “Dengan capex Rp17,2 triliun untuk smelter value-added, ANTM siap ekspansi sambil royal bagi hasil,” ujar analis KB Valbury Sekuritas Laurencia Hiemas.
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) diproyeksikan tumbuh laba 22,43% menjadi Rp262 per saham, didukung tren kinerja membaik di semester I/2025 (laba naik 13,6%, kredit +6,8%). Fokus pada pembiayaan perumahan subsidi (FLPP) dan KUR suplai menjadi katalis, dengan NIM melonjak ke 5,2% dan proyeksi pertumbuhan kredit 7-9%.
Potensi dividend yield 5,39% (payout ratio ~25%) membuat BBTN menarik untuk investor moderat. Ciptadana Sekuritas merevisi target harga Rp1.600 (dari Rp1.825), dengan rekomendasi BUY. “Penurunan suku bunga BI dan program subsidi perumahan akan dorong NIM ke 3,2-3,4%,” tambah riset mereka.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menawarkan pertumbuhan stabil (+5-10% YoY), dengan laba bersih 5M2025 Rp2,9 triliun (+5%) dan pembiayaan syariah +14,9%. Efisiensi operasional dan risiko terjaga (NPL rendah) menjadi pondasi, meski yield dividen hanya ~1% akibat payout konservatif.
BRIS cocok untuk investor defensif, dengan target harga Rp3.100 dari Ciptadana. “Di tengah pelambatan pendapatan bank April 2025, BRIS bergeser sebagai pick utama dari bank konvensional,” kata analis Bareksa.
Dari 15 saham BUMN, dominasi negatif ini mencerminkan tantangan seperti kontraksi kredit mikro (BBRI -9% YoY) dan penurunan NIM sektor bank. Namun, ANTM, BBTN, dan BRIS menawarkan diversifikasi: yield tinggi dari tambang, moderat dari perbankan konvensional, dan stabil dari syariah. Total dividen BUMN 2025 diproyeksikan Rp90 triliun, dengan bank berkontribusi 70%.
Investor disarankan akumulasi di level support (ANTM Rp3.000, BBTN Rp1.085, BRIS Rp2.200) untuk capture yield dan capital gain. “Fokus pada emiten dengan ROE tinggi seperti ANTM (target ROE lebih baik di 2025),” saran BRI Danareksa Sekuritas.
Prospek BUMN 2025 cerah bagi yang selektif, bukan kuantitas, tapi kualitas pertumbuhan.
DISCLAIMER ON : Artikel ini disusun berdasarkan konsensus analis Mikirduit, Ciptadana Sekuritas, dan data BEI per 6 November 2025. Pendapat di atas bukan rekomendasi investasi; konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional.





💬 Diskusi & Komentar