⚖️ Sentimen Pasar: Netral

Harga Minyak Sawit 2026 Diprediksi Bullish, Bisa Capai RM5.500 per Ton

November 17, 2025  •  mahmud yunus

SAHAMBAGUS.CO.ID-Prospek harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah untuk tahun 2026 semakin cerah. Beberapa analis ternama memprediksi tren bullish yang kuat, dengan potensi harga menyentuh level RM5.500 per ton pada awal tahun, terutama di kuartal pertama (Q1) 2026. Prediksi ini didorong oleh kombinasi pasokan terbatas dan permintaan yang melonjak, khususnya dari program biodiesel Indonesia.

Analis minyak sawit veteran dari Godrej International, Dorab Mistry, kembali menjadi sorotan dengan prediksi optimisnya. Dalam beberapa konferensi terakhir, termasuk IPOC 2025 di Bali, Mistry memperkirakan harga CPO bisa melampaui RM5.000 per ton pada akhir 2025 dan melonjak hingga RM5.500 per ton pada Januari-Maret 2026.

Alasannya? Pertumbuhan produksi global yang lambat — hanya sekitar 1-1,5 juta ton pada 2025/2026 — karena faktor cuaca, pohon sawit yang menua, dan kekurangan tenaga kerja di Malaysia serta Indonesia.

Kebijakan Biodiesel Indonesia Jadi Pemicu Utama

Faktor paling bullish datang dari Indonesia, produsen sawit terbesar dunia. Pemerintah Jokowi/Wapres terpilih terus mendorong kenaikan mandatori biodiesel dari B35 saat ini menuju B50 atau bahkan B60 pada 2026. Kebijakan ini akan menyerap jutaan ton CPO untuk kebutuhan domestik, sehingga mengurangi volume ekspor dan mengetatkan pasokan global.

Eddy Martono dari Lonsum memperkirakan jika B50 terealisasi penuh, harga CPO bisa stabil di atas RM5.000 per ton  sepanjang paruh pertama 2026.

 Prediksi Lain & Harga Saat Ini

Meski sebagian analis lebih konservatif:

– CGS International → RM4.500 per ton (2026 rata-rata)

– Maybank → RM4.200–4.300

– MPOC → di atas RM4.400

Mereka tetap mengakui risiko upside yang besar jika B50 Indonesia berjalan agresif dan La Niña mengganggu produksi.

Saat artikel ini ditulis (17 November 2025), harga CPO di Bursa Malaysia bergerak di kisaran RM4.100–4.200 per ton, sudah naik signifikan dari level terendah tahun ini.

 Dampak bagi Indonesia & Malaysia

Bagi petani sawit dan perusahaan perkebunan di Indonesia (Astra Agro, Sampoerna Agro, dll.) serta Malaysia (IOI, KLK, Sime Darby), harga di atas RM5.000 akan memberikan marjin keuntungan yang sangat sehat. Indonesia sebagai eksportir neto tetap akan diuntungkan meski sebagian produksi diserap biodiesel, karena premium harga global akan naik.

Namun ada risiko downside:

– Produksi lebih tinggi dari prediksi jika cuaca sangat mendukung

– Perlambatan ekonomi China/India

– Tekanan regulasi EUDR Uni Eropa

Secara keseluruhan, sentimen pasar saat ini sangat bullish untuk 2026. Banyak trader dan fund sudah mulai mengakumulasi posisi long di Bursa Malaysia Derivatives.

Jika prediksi Dorab Mistry dan skenario B50 terwujud, level RM5.500 per ton bukan lagi impian, melainkan target realistis yang bisa tercapai pada awal tahun depan.

Petani sawit, bersiaplah — tahun 2026 berpotensi menjadi tahun emas lagi seperti 2022!



💬 Diskusi & Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *

Masuk ke Akun

Belum punya akun? Daftar sekarang