Investor Asing Borong Saham Konglomerasi dan Perbankan, IHSG Naik Tipis di Sesi I Jumat
Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis pada perdagangan sesi I Jumat (7/11), didorong aksi borong investor asing terhadap saham-saham konglomerasi dan emiten perbankan. IHSG naik 0,15% atau 12,35 poin ke level 8.254,26, dengan nilai transaksi mencapai Rp4,2 triliun hingga pukul 10.00 WIB. Kenaikan ini mencerminkan sentimen positif pasca-penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) dan stabilisasi rupiah di kisaran Rp15.800 per dolar AS, meski tekanan profit taking di sektor komoditas masih membatasi laju indeks.
Aksi net buy asing mencapai Rp150 miliar di sesi pagi, terutama mengalir ke saham blue chip milik grup konglomerasi seperti BBCA (Bank Central Asia milik Djarum Group) dan BMRI (Bank Mandiri milik pelat merah dengan sentuhan konglomerasi), serta BBRI (Bank Rakyat Indonesia). Tren ini melanjutkan pola akumulasi asing sejak akhir Oktober, di mana BBCA saja mencatat net foreign buy Rp2,83 triliun sejak 22 Oktober 2025.
Saham konglomerasi, yang mendominasi bobot IHSG hingga 40%, kembali menjadi primadona investor asing di tengah rotasi portofolio global. Grup konglomerasi seperti Djarum (BBCA), Astra (ASII), dan Sinar Mas (SMGR) menawarkan valuasi menarik dengan PER rata-rata 10-12 kali, di bawah rata-rata historis 14 kali. Sementara itu, sektor perbankan—dengan kontribusi 25% bobot indeks—menjadi safe haven berkat laba kuartal III yang solid dan ekspektasi dividen jumbo Rp90 triliun secara keseluruhan pada 2025.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), net buy asing di sesi I Jumat terpusat pada saham-saham berikut:
| Kode Saham | Nama Emiten | Net Buy Asing Sesi I (Rp Miliar) | Kenaikan Harga (%) |
|---|---|---|---|
| BBCA | PT Bank Central Asia Tbk | 85,2 | +1,2 |
| BMRI | PT Bank Mandiri Tbk | 42,1 | +0,8 |
| BBRI | PT Bank Rakyat Indonesia Tbk | 18,5 | +0,5 |
| ASII | PT Astra International Tbk | 4,2 | +0,3 |
Sumber: Data BEI real-time per 7 November 2025 pukul 10.00 WIB.
BBCA, sebagai saham konglomerasi terbesar, melonjak 1,2% ke Rp10.450, didorong laba bersih Q3 Rp52 triliun (naik 15% YoY). Sementara BMRI dan BBRI, yang juga menarik asing sejak awal November, mencatat net buy kumulatif Rp868 miliar dan Rp210 miliar sejak akhir Oktober. Analis Republik Investor, Hendra Wardana, menilai, “Rotasi dana asing ke big banks menandakan kepercayaan pada stabilitas sektor keuangan, di mana saham-saham ini jadi tulang punggung IHSG hingga akhir tahun.”
Penguatan IHSG tipis ini dipicu pemangkasan BI Rate 25 bps menjadi 5,75% pada rapat Oktober, yang membuka ruang likuiditas lebih besar untuk kredit perbankan. Selain itu, arus dana asing yang kembali inflow setelah net sell Rp47 triliun YTD awal tahun, kini bergeser ke aset undervalued di tengah ekspektasi penurunan The Fed Rate 25 bps pada Desember. Liza Camelia dari Kiwoom Sekuritas memproyeksikan, “IHSG berpotensi tembus 8.400 akhir 2025, dengan sektor perbankan dan konglomerasi sebagai pendorong utama, didukung stimulus fiskal pemerintah.”
Global, pelemahan dolar AS pasca-data inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi (3% YoY) mendorong investor asing diversifikasi ke emerging markets seperti Indonesia. Sektor properti dan infrastruktur juga ikut terdongkrak, meski komoditas seperti emas dan nikel masih fluktuatif akibat harga global.
Pasar merespons dengan hati-hati: Volume transaksi sesi I Rp4,2 triliun, di bawah rata-rata harian Rp15 triliun, menandakan partisipasi ritel yang masih lesu. Namun, 65% saham naik, dengan sektor keuangan menguat 0,8% dan barang konsumsi 0,4%. Saham konglomerasi seperti ASII naik tipis 0,3% ke Rp5.200, sementara BBNI—yang kurang diminati asing—malah turun 0,2% akibat laba Q3 yang melemah 7,3% YoY.
Analis IndoPremier, Indri Liftiany, menambahkan, “Momentum beli asing ini bisa dorong IHSG ke resistance 8.300, tapi profit taking di konglomerasi perlu diwaspadai jika rupiah melemah lagi.” Secara YTD, IHSG naik 13,5%, melampaui rata-rata ASEAN.
Prospek ke Depan: Optimisme Jangka Menengah
Dengan net buy asing yang berlanjut, prospek IHSG tetap bullish hingga akhir 2025, terutama jika realisasi proyek hilirisasi Danantara mendorong kinerja BUMN afiliasi konglomerasi. Investor ritel disarankan akumulasi di saham perbankan seperti BBRI (target Rp5.500) untuk dividen yield 5-6%. Namun, volatilitas geopolitik Timur Tengah dan data US non-farm payroll minggu depan jadi faktor kunci. Di tengah tren ini, pasar saham Indonesia semakin menarik bagi asing, sejalan visi ekonomi 8% Prabowo.





💬 Diskusi & Komentar