Investor Kawakan Lo Kheng Hong Tambah Koleksi Saham GJTL, Kepemilikan Naik ke 5,74%
Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – Investor legendaris Indonesia, Lo Kheng Hong, yang sering dijuluki “Warren Buffett Indonesia”, kembali menunjukkan kepercayaan dirinya terhadap prospek emiten produsen ban PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL). Melalui PT Sinarmas Sekuritas, Lo baru saja membeli 200 ribu lembar saham GJTL, yang mendorong porsi kepemilikannya meningkat menjadi 5,74%. Transaksi ini terjadi di tengah tren pemulihan harga saham GJTL pasca-penurunan kinerja kuartal III/2025, dan menjadi sinyal positif bagi pasar yang mencari valuasi undervalued di sektor otomotif.
Profil Lo Kheng Hong: Strategi Value Investing yang Teruji
Lo Kheng Hong, lahir di Medan pada 1955, adalah ikon investasi ritel di Indonesia dengan portofolio yang mencapai miliaran rupiah. Mulai berinvestasi sejak 1984 setelah bekerja di PT Bank Summa, Lo dikenal dengan pendekatan value investing ala Warren Buffett: membeli saham perusahaan bagus di harga murah dan menahan jangka panjang. Kekayaannya pernah mencapai Rp2,5 triliun pada 2015, didorong sukses di saham seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Pada 2025, Lo aktif mengakumulasi saham di sektor manufaktur dan komoditas, termasuk GJTL yang menjadi salah satu favoritnya sejak 2021. Hingga akhir Oktober 2025, kepemilikan Lo tersebar di berbagai emiten, tapi GJTL tetap menjadi posisi signifikan dengan kontribusi dividen yang stabil. “Saya beli saham yang saya pahami, dengan fundamental kuat dan harga diskon,” ujar Lo dalam wawancara dengan salah satu media ekonomi nasional, Bisnis.com, tahun lalu, prinsip yang tampaknya masih dipegang teguh.
Berdasarkan laporan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per akhir September 2025, Lo sebelumnya memegang 194,26 juta saham GJTL atau 5,57%. Pembelian terbaru 200 ribu saham pada awal November—dilakukan melalui PT Sinarmas Sekuritas—langsung menaikkan porsinya menjadi sekitar 200 juta saham, setara 5,74%. Transaksi ini dilaporkan dalam keterbukaan informasi BEI, menegaskan komitmen Lo sebagai pemegang saham minoritas utama di bawah Compagnie Financiere Michelin SCA (pemilik mayoritas 68%).
Harga transaksi diperkirakan di kisaran Rp1.100-1.150 per saham, mengingat penutupan GJTL pada 7 November di Rp1.125, naik 1,8% dari sesi sebelumnya. Aksi ini sejalan dengan pola Lo sepanjang 2025: Ia telah menambah posisi GJTL sebanyak enam kali, termasuk 650 ribu saham pada Februari (Rp1.070/saham), 595.700 saham pada Juni, dan 200 ribu saham pada Juli. Total akumulasi tahun ini mencapai lebih dari 2 juta saham, didorong keyakinan pada valuasi murah GJTL dengan price-to-earnings ratio (PER) 3,5 kali dan price-to-book value (PBV) 0,48 kali—jauh di bawah rata-rata sektor.
Berikut riwayat akumulasi Lo di GJTL sepanjang 2025:
| Bulan | Jumlah Saham Dibeli | Harga Rata-rata (Rp) | Kepemilikan Akhir (%) |
|---|---|---|---|
| Januari | 350.000 | 1.150 | 5,27 |
| Februari | 650.000 | 1.070 | 5,40 |
| Mei | 500.000 | 1.080 | 5,48 |
| Juni | 595.700 | 1.120 | 5,53 |
| Juli | 200.000 | 1.140 | 5,57 |
| November | 200.000 | ~1.125 | 5,74 |
Sumber: Data KSEI dan laporan BEI.
Dampak terhadap GJTL: Valuasi Murah dan Ekspansi Produksi
PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), didirikan pada 1951 dan terafiliasi dengan Grup Sinar Mas, adalah produsen ban terbesar di Asia Tenggara dengan merek GT Radial, IRC, dan Premier. Perusahaan menguasai 40% pangsa pasar ban lokal, dengan ekspor ke lebih dari 100 negara. Pada kuartal III/2025, GJTL mencatat penjualan bersih Rp13,12 triliun (turun 2,38% YoY) dan laba bersih Rp700 miliar (turun 19% YoY), tertekan fluktuasi harga karet dan kompetisi impor. Namun, total aset tetap solid di Rp22,31 triliun, didukung fasilitas kredit sindikasi Rp4,4 triliun dari Bank BCA untuk ekspansi lini produksi truck and bus radial (TBR) hingga 5.000 pcs/hari.
Aksi Lo memicu respons pasar: Saham GJTL melonjak 3-5% pasca-pengumuman, dengan volume perdagangan mencapai 15 juta lembar pada 7 November. Analis Erdhika Elit Sekuritas merekomendasikan “buy” dengan target Rp1.400, menyoroti potensi rebound ekspor di tengah pemulihan otomotif global. Lo sendiri pernah bilang, “GJTL seperti pabrik ban raksasa Asia Tenggara; laba tumbuh stabil sejak 2020, semoga 2025 ikut naik.”
Prospek Investasi: Sinyal Bullish dari “Big Player”
Pembelian Lo ini bukan sekadar transaksi, tapi endorsement bagi investor ritel. Dengan dividen Rp50/saham yang dibagikan Juli 2025 (Lo cuan Rp10 miliar), GJTL menawarkan yield 4,5%—atraktif di era suku bunga rendah. Meski tantangan seperti kenaikan biaya bahan baku dan regulasi impor lingkungan mengintai, ekspansi TBR dan capex US$150 juta diproyeksikan dorong laba 15% pada 2026.
Bagi pemula, aksi Lo mengingatkan untuk fokus pada fundamental, bukan hype. Di tengah IHSG yang fluktuatif 2025, GJTL bisa jadi pilihan defensif dengan dukungan “raja saham” seperti Lo. Pantau RUPS GJTL Desember untuk update strategi—siapa tahu, ada kejutan lain dari investor kawakan ini.





💬 Diskusi & Komentar