Ketika “Warren Buffett Indonesia” Agesif Saham Borong GJTL
SAHAMBAGUS.CO.ID-Investor legendaris Lo Kheng Hong, yang sering dijuluki “Warren Buffett Indonesia”, kembali menjadi sorotan di pasar modal Tanah Air. Pada Desember 2025, ia secara agresif memborong saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), produsen ban terkemuka di Indonesia. Aksi ini dilakukan di tengah penurunan kinerja keuangan perusahaan dan pelemahan harga saham. Meski demikian, Lo Kheng Hong melihat peluang besar dalam valuasi yang dianggap murah. Artikel ini akan mengupas alasan di balik aksi tersebut, data terkini, serta dampaknya terhadap bursa saham.
Siapa Lo Kheng Hong dan Profil GJTL
Lo Kheng Hong adalah investor value investing terkenal di Indonesia, yang dikenal dengan strategi membeli saham undervalued dan menahannya jangka panjang. Ia telah sukses dengan portofolio seperti saham UNTR dan lainnya, mengumpulkan kekayaan miliaran rupiah melalui pendekatan disiplin.
PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) adalah perusahaan manufaktur ban untuk kendaraan roda dua dan roda empat, dengan pasar domestik dan ekspor. Perusahaan ini terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 1990. Namun, pada 2025, GJTL menghadapi tantangan seperti penurunan laba bersih akibat kenaikan biaya bahan baku dan persaingan global.
Berdasarkan data terbaru, Lo Kheng Hong telah menambah kepemilikan saham GJTL secara signifikan sepanjang 2025, dengan puncak aktivitas di Desember. Pada 11 Desember 2025, ia membeli 700 ribu lembar saham melalui PT BRI Danareksa Sekuritas, sehingga total kepemilikannya mencapai sekitar 202,98 juta lembar atau 5,82% dari total saham beredar GJTL. Ini naik dari posisi sebelumnya di November 2025, di mana kepemilikannya sekitar 5,74%.
Aksi ini bukan yang pertama; Lo Kheng Hong telah secara konsisten menambah saham GJTL sejak akhir 2024. Misalnya, pada Desember 2024, ia menambah 550 ribu lembar, membawa total saat itu menjadi 182,09 juta lembar (5,23%). Total akumulasi di 2025 mencapai puluhan juta lembar, menjadikannya pemegang saham individu terbesar di GJTL.
Meski kinerja GJTL menurun, Lo Kheng Hong melihat saham ini sebagai “murah meriah”. Valuasi GJTL dianggap undervalued dengan Price to Book Value (PBV) sekitar 0,42 kali dan Price to Earnings Ratio (PER) 2,91 kali (berdasarkan data annualized akhir 2024). Ia blak-blakan menyatakan bahwa meskipun laba bersih GJTL turun, harga saham yang rendah membuatnya menarik untuk investasi jangka panjang.
Pada 2025, saham GJTL mengalami penurunan 6,55% year-to-date (YtD), bahkan hingga 9,17% di beberapa laporan, akibat tekanan ekonomi global dan penurunan permintaan ban. Namun, Lo Kheng Hong percaya pada prospek pemulihan GJTL, terutama dengan potensi dividen 2025 dan ekspansi pasar. Dalam wawancara, ia mengatakan, “Kinerja GJTL turun, tetapi harganya murah, jadi saya borong.”
Analis pasar juga setuju; saham GJTL dianggap memiliki fundamental kuat meski sementara tertekan. Laba bersih 9 bulan 2024 bahkan naik 41,36% menjadi Rp988,55 miliar, meski tren 2025 menurun.
Aksi Lo Kheng Hong sering menjadi sinyal bagi investor ritel. Pembeliannya di Desember 2025 telah mendorong minat pada saham GJTL, meski harga masih fluktuatif. Pada 16 Desember 2025, saham GJTL ditutup di level rendah, tapi volume transaksi meningkat. Dampak positif: Meningkatkan kepercayaan pasar terhadap saham undervalued di sektor manufaktur.
Namun, ada risiko; jika kinerja GJTL tak kunjung pulih, bisa menimbulkan volatilitas. Secara keseluruhan, ini memperkuat narasi value investing di BEI, di mana investor seperti Lo Kheng Hong memanfaatkan koreksi pasar untuk akumulasi.
Aksi jor-joran Lo Kheng Hong borong saham GJTL di Desember 2025 didasari keyakinan pada valuasi murah dan potensi jangka panjang, meski dihadang penurunan kinerja. Ini menjadi pelajaran bagi investor: Fokus pada fundamental daripada fluktuasi sementara. Pantau perkembangan GJTL melalui laporan BEI untuk melihat apakah strategi ini membuahkan hasil. Bagi yang tertarik, konsultasikan dengan analis sebelum berinvestasi.





💬 Diskusi & Komentar