Laba Q3/2025 Emiten BUMN di Bawah Ekspektasi: IDX BUMN20 Tetap Hijau di Tengah Tekanan
Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – Sederet emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru saja mengumumkan laporan keuangan kuartal III/2025 yang mayoritas mengecewakan ekspektasi investor. Meski demikian, sentimen pasar tampaknya masih mengabaikan hasil tersebut, dengan Indeks Saham Emiten Pelat Merah atau IDX BUMN20 tetap kokoh di zona hijau. Penguatan indeks ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang BUMN, didukung oleh faktor defensif seperti dividen stabil dan dukungan pemerintah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX BUMN20 menguat 0,79% pada perdagangan Rabu (5/11/2025) menuju level 380,20 poin. Kenaikan ini terjadi di tengah arus masuk dana asing ke saham BUMN, meski kinerja laba emiten konstituen indeks—seperti bank-bank besar—tertekan oleh pelemahan net interest margin (NIM) dan biaya kredit yang membengkak.
Kinerja Laba Q3/2025, bahwa mayoritas Susut, Beberapa Sektor Justru Lompat
Laporan keuangan yang dirilis Kamis (6/11/2025) menunjukkan bahwa sektor perbankan BUMN mendominasi penurunan. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat laba bersih Rp41,37 triliun, susut 10,22% secara year-on-year (YoY). Sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 9,10% YoY menjadi Rp41,23 triliun, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) merosot 7,32% YoY ke Rp15,23 triliun. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor makroekonomi, termasuk pelambatan kredit UMKM dan kenaikan provisi kredit bermasalah (NPL).
| Emiten | Laba Bersih Q3/2025 (Rp Triliun) | Perubahan YoY (%) |
|---|---|---|
| BMRI | 41,37 | -10,22 |
| BBRI | 41,23 | -9,10 |
| BBNI | 15,23 | -7,32 |
Kontras dengan bank, emiten tambang seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) justru melompat tajam, dengan laba bersih naik signifikan berkat lonjakan harga nikel dan emas. Hal serupa terlihat pada PT Timah Tbk (TINS) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), yang menjadi “hedge” di tengah fluktuasi sektor keuangan.
Community and Retail Equity Analyst Lead PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Angga Septianus, menjelaskan bahwa lesunya kinerja ini dipengaruhi oleh tekanan sektoral. “Kombinasi faktor makro dan sektoral seperti penurunan NIM di bank BUMN menjadi pemicu utama. Namun, saham seperti ANTM, TINS, PGEO justru jadi hedge di tengah fluktuasi sektor keuangan,” ujarnya kepada Bisnis pada Rabu (5/11/2025).
Meski laba di bawah estimasi, IDX BUMN20—yang mencakup 20 emiten BUMN unggulan seperti BMRI, BBRI, BBNI, ANTM, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)—tetap resilient. Penguatan 0,79% ini didorong oleh saham-saham defensif dengan bobot besar, termasuk perbankan yang meski laba susut, valuasinya masih menarik dengan price-to-earnings (P/E) di bawah rata-rata sektor.
Analis menilai ketahanan ini berasal dari ekspektasi pemangkasan suku bunga BI yang akan mendongkrak NIM, serta katalis positif dari Danantara—superholding BUMN yang mengelola 844 entitas. “Investor melihat BUMN sebagai aset aman dengan dividen yield rata-rata 4-6%, di tengah ketidakpastian global,” tambah Wafi, analis dari lembaga riset.
Kinerja Q3/2025 ini menjadi pengingat bagi investor untuk diversifikasi dalam portofolio BUMN. Sektor tambang dan energi terbarukan seperti ANTM dan PGEO diproyeksikan tumbuh 20-30% YoY pada 2026, sementara bank BUMN berpotensi rebound dengan stimulus fiskal pemerintah. IDX BUMN20 sendiri diprediksi menembus 400 poin akhir tahun, didukung inflow asing senilai US$500 juta.
Bagi investor ritel, ini saatnya akumulasi saham undervalued seperti BBRI (target Rp5.500) dan ANTM (Rp1.800). Namun, pantau risiko seperti fluktuasi komoditas dan kebijakan moneter.
Emiten pelat merah tetap jadi tulang punggung pasar saham Indonesia—kinerja laba boleh goyah, tapi indeksnya tak tergoyahkan.
DISCLAIMER ON : Artikel ini disusun berdasarkan data BEI dan laporan keuangan emiten per 6 November 2025. Pendapat di atas bukan rekomendasi investasi; konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional.





💬 Diskusi & Komentar