⚖️ Sentimen Pasar: Netral

Masuk Karena Utang, Keluar Bawa Rp173 Miliar – Madhani Lepas Total Saham DEWA

November 25, 2025  •  mahmud yunus

SAHAMBAGUS.CO.ID-PT Madhani Talatah Nusantara (MTN), perusahaan kontraktor tambang yang berbasis di Indonesia, baru saja menutup babak investasinya di PT Darma Henwa Tbk (DEWA), emiten jasa pertambangan milik Grup Bakrie. Berdasarkan data terbaru dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), MTN yang sempat menjadi pemegang saham mayoritas DEWA melalui skema private placement pada 27 Februari 2025, kini tidak lagi menggenggam satu pun saham emiten berkode DEWA tersebut. Langkah divestasi bertahap ini menandai akhir dari perjalanan singkat namun intens MTN di DEWA, yang dimulai sebagai upaya restrukturisasi utang dan berakhir dengan realisasi keuntungan signifikan.

Latar Belakang Masuknya MTN ke DEWA: Konversi Utang Menjadi Saham

PT Madhani Talatah Nusantara, yang didirikan pada 2001 dan berfokus pada layanan konstruksi tambang, overburden removal, pengangkutan bahan galian, serta reklamasi tambang, masuk ke DEWA melalui mekanisme Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Keputusan ini disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) DEWA pada 13 Februari 2025, dengan tujuan utama memperbaiki posisi keuangan perseroan.

Pada 27 Februari 2025, DEWA menerbitkan 18,833 miliar saham baru Seri B dengan nilai nominal Rp50 per lembar dan harga pelaksanaan Rp75 per saham, senilai total Rp1,412 triliun. Saham-saham ini diberikan kepada tiga entitas utama untuk mengonversi utang DEWA: MTN sebesar Rp756,99 miliar (setara 10,93 miliar saham atau 24,81% kepemilikan), PT Andhesti Tungkas Pratama (ATP) sebesar Rp358,92 miliar (11,76%), dan PT Antareja Mahada Makmur (AMM) sebesar Rp296,61 miliar (9,72%). Pasca-transaksi, MTN langsung menjadi pemegang saham terbesar DEWA, menggeser struktur kepemilikan yang sebelumnya didominasi pemegang saham pengendali (11,5%) dan free float (71,04%).

Langkah ini bukan hanya strategi keuangan bagi DEWA, yang saat itu bergulat dengan beban utang terkait jasa penambangan, tetapi juga peluang bagi MTN untuk ekspansi di sektor pertambangan batubara. DEWA sendiri, sebagai kontraktor tambang utama Grup Bakrie, memiliki portofolio proyek di berbagai lokasi tambang besar di Indonesia, termasuk akuisisi PT Sabina Mahardika pada 2020 yang membawa aset tambang emas di Aceh.

Jejak Divestasi Bertahap: Dari Mayoritas ke Nol Saham

Sejak April 2025, MTN mulai melakukan divestasi secara bertahap, dengan sebagian besar transaksi dilakukan pada harga Rp75 per saham—sama dengan harga akuisisi awal—melalui broker seperti PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM). Strategi ini tampaknya bertujuan merealisasikan investasi sambil menjaga likuiditas, meskipun harga pasar DEWA sering kali melambung di atas Rp200 per saham berkat kinerja keuangan yang solid.

Tanggal TransaksiJumlah Saham DijualHarga per Saham (Rp)Nilai Transaksi (Rp Miliar)Kepemilikan Pasca-Transaksi (%)
29 April 2025493,33 juta753723,59
7 Juli 2025361,44 juta7527,121,07
19 Juni 2025666,67 juta755021,96
4 Agustus 2025606 juta7545,4519,58
8 Agustus 20252,639 miliar208548,8913,09
17 September 20252,042 miliar75153,28,07
10 Oktober 2025816 juta7561,26,07
13 Oktober 2025105 juta757,875,81
13 Oktober 2025 (final)Sisa 2,364 miliar0

Sumber: Keterbukaan informasi BEI dan data KSEI

Total saham yang dilepas MTN mencapai sekitar 10,93 miliar lembar, dengan nilai realisasi melebihi Rp930 miliar—lebih tinggi dari investasi awal Rp756,99 miliar, menghasilkan keuntungan bersih sekitar Rp173 miliar. Divestasi terakhir pada pertengahan November 2025 menyelesaikan proses ini, meninggalkan MTN dengan 0% kepemilikan. Tujuan utama transaksi disebutkan sebagai “divestasi dengan status kepemilikan langsung” dan MTN bukan pengendali DEWA.

Dampak bagi DEWA dan Prospek ke Depan

Divestasi MTN bertepatan dengan momentum positif DEWA. Hingga kuartal I 2025, pendapatan DEWA naik 9,08% menjadi Rp1,58 triliun, sementara laba bersih melonjak 763% menjadi Rp68,89 miliar. Prediksi Sucor Sekuritas bahkan memperkirakan laba semester I 2025 mencapai Rp200 miliar, naik 1.328% year-on-year. Saham DEWA pun menguat, naik 111% dalam tiga bulan hingga Juli 2025, meskipun sempat terkoreksi di akhir tahun.

Untuk merespons tekanan pasar pasca-divestasi, DEWA merencanakan buyback saham senilai maksimal Rp1,66 triliun mulai 19 November 2025 hingga 19 Februari 2026, bersumber dari kas internal. Langkah ini diharapkan meningkatkan earning per share (EPS) dari Rp4,13 menjadi Rp4,59, sekaligus menjaga stabilitas harga saham.

Bagi MTN, keluarnya dari DEWA membuka ruang untuk fokus pada core business-nya di sektor tambang, termasuk proyek kontraktor di berbagai wilayah Indonesia. Sementara itu, DEWA terus mengukuhkan posisinya sebagai pemain kunci di industri pertambangan batubara, didukung oleh fasilitas kredit sindikasi Rp350 miliar baru-baru ini.

Perjalanan MTN di DEWA ini menjadi contoh klasik strategi debt-to-equity swap yang sukses: masuk untuk restrukturisasi, keluar dengan profit, dan meninggalkan perusahaan portofolio lebih kuat. Investor kini menanti apakah entitas lain akan mengisi kekosongan kepemilikan mayoritas DEWA di tengah prospek sektor tambang yang cerah.



💬 Diskusi & Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *

Masuk ke Akun

Belum punya akun? Daftar sekarang