MDKA Bangkit: Dari Rugi Bersih ke Laba Gemilang di 2026 Berkat Efisiensi dan Proyek Strategis
SAHAMBAGUS.CO.ID-Kans Pemulihan Laba Merdeka Copper Gold (MDKA) usai Mampu Tekan Rugi Bersih
Emiten tambang emas dan nikel, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang positif setelah berhasil menekan rugi bersihnya pada periode sembilan bulan pertama tahun 2025 (9M 2025). Meskipun masih mencatatkan kerugian, perusahaan ini diproyeksikan kembali meraih laba bersih pada 2026, didorong oleh efisiensi biaya operasional dan optimalisasi proyek-proyek utama. Analis memperkirakan bahwa kontribusi dari tambang emas dan nikel akan menjadi pendorong utama transformasi ini.
Kinerja Keuangan Terkini: Rugi Bersih Menipis
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, MDKA membukukan rugi bersih sebesar US$34,75 juta pada kuartal III/2025, yang merupakan penurunan signifikan sebesar 48,14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan untuk 9M 2025, pendapatan perusahaan mencapai US$1,28 miliar, meski mengalami penurunan 23% year-on-year (YoY) akibat kontribusi yang lebih rendah dari pengolahan nikel. Namun, EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) justru melonjak 33% YoY menjadi US$295 juta, menandakan perbaikan efisiensi operasional.
Penurunan rugi bersih ini didukung oleh harga jual emas yang lebih tinggi dan margin emas yang meningkat hingga 59%, serta integrasi rantai nilai nikel yang lebih efisien. Pada semester pertama 2025 saja, rugi bersih MDKA mencapai US$15,8 juta dengan pendapatan US$854,5 juta, yang juga menunjukkan tren penyusutan kerugian. Meski demikian, volatilitas harga komoditas, khususnya nikel, tetap menjadi tantangan utama bagi grup Merdeka pada 2026.
Efisiensi Biaya sebagai Kunci Pemulihan
Salah satu faktor krusial di balik potensi pemulihan adalah upaya efisiensi biaya yang dilakukan MDKA. Perusahaan telah meningkatkan efisiensi penambangan melalui integrasi armada baru dan penerapan sistem yang lebih canggih. Di sektor nikel, anak usaha PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat pertumbuhan output saprolite hingga 89% dan limonite 51%, dengan margin yang kuat meski produksi NPI (Nickel Pig Iron) lebih rendah. Selain itu, disiplin operasional telah membantu menjaga biaya kas tetap stabil, mendukung peningkatan laba dan margin.
Pada kuartal III 2025, MDKA juga mencatat arus kas operasional yang signifikan, dengan peningkatan hingga 1.365,7% YoY pada semester pertama, didorong oleh kenaikan gross profit. Langkah-langkah ini tidak hanya menekan rugi bersih saat ini, tetapi juga membangun fondasi untuk profitabilitas jangka panjang.
Optimalisasi Proyek Utama Dorong Pertumbuhan
MDKA tengah fokus pada optimalisasi proyek-proyek strategis yang diharapkan memberikan kontribusi besar pada 2026. Proyek Tembaga Tujuh Bukit dan Tambang Emas Pani menjadi pilar utama pertumbuhan. Di Tambang Emas Pani (dioperasikan oleh PT Merdeka Gold Resources Tbk), penumpukan bijih telah dimulai dengan sukses, dan produksi emas ditargetkan mulai pada kuartal I 2026. Kapasitas penumpukan dan pabrik emas telah ditingkatkan melebihi panduan sebelumnya, mencapai 7 juta ton, dengan rencana pengembangan CIL (Carbon-in-Leach) yang lebih cepat untuk mencapai produksi puncak hingga 500.000 ons per tahun.
Sementara itu, di sektor nikel, proyek AIM (Acid, Iron, Metal) PT Merdeka Tsingshan Indonesia ditargetkan mencapai produksi penuh pyrite, asam, logam klorida, dan katoda tembaga pada akhir 2025. Pabrik HPAL (High-Pressure Acid Leach) PT Sulawesi Nickel Cobalt dengan kapasitas 90.000 ton nikel per tahun dalam MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) juga sedang dibangun dan dijadwalkan commissioning pada pertengahan 2026. Kontribusi dari Tujuh Bukit dan Pani diharapkan membawa perubahan signifikan dalam produksi emas dan arus kas pada 2026.
Proyeksi Laba Bersih 2026 dan Rekomendasi
Analis optimistis bahwa MDKA akan kembali mencatat laba bersih pada 2026, berkat kombinasi efisiensi biaya dan ramp-up produksi dari proyek utama. Wafi, seorang analis, menargetkan harga saham MDKA di level Rp 2.800 per saham, menjadikannya saham yang layak dipertimbangkan oleh investor. Namun, risiko volatilitas harga nikel global tetap menjadi perhatian, yang bisa memengaruhi kinerja keseluruhan grup Merdeka.
Secara keseluruhan, perjalanan MDKA menuju pemulihan menunjukkan komitmen kuat terhadap optimalisasi aset dan pengelolaan biaya. Dengan kemajuan proyek yang sedang berlangsung, 2026 bisa menjadi tahun turnaround bagi emiten ini, memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dan memperkuat posisinya di industri tambang Indonesia.





💬 Diskusi & Komentar