⚖️ Sentimen Pasar: Netral

Pipeline IPO BEI Panjang: 13 Calon Emiten Siap Melantai, 3 Lighthouse Jumbo dari Finance hingga Mining

November 7, 2025  •  mahmud yunus

Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengonfirmasi adanya 13 calon emiten yang kini memasuki pipeline initial public offering (IPO), dengan tiga di antaranya termasuk kategori lighthouse atau berskala besar yang siap digelar hingga akhir tahun 2025. Penguatan pipeline ini menjadi sinyal positif bagi pasar modal domestik, meski jumlah IPO tahun ini menurun dari 40 perusahaan pada 2024, tetapi rata-rata dana yang terkumpul justru meningkat signifikan berkat suksesnya lima IPO lighthouse sebelumnya.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa ketiga calon emiten lighthouse bergerak di sektor keuangan (satu finance), infrastruktur (kedua), dan pertambangan (satu mining). “Satu finance, kemudian kedua infrastruktur, satu lagi mining,” ujar Nyoman kepada awak media di Gedung BEI, Kamis (6/11/2025). Proyeksi ini diharapkan melengkapi capaian tahun ini, di mana BEI telah mencatat 24 IPO hingga awal November, termasuk yang terbaru PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) pada 6 November.

Sepanjang 2025, BEI merevisi target IPO menjadi 45 emiten dari awalnya 66, dengan realisasi 24 perusahaan hingga kini—masih menyisakan ruang untuk 13 pipeline tersebut. Penurunan jumlah IPO dibandingkan 2024 (40 emiten) disebabkan oleh selektivitas lebih ketat terhadap kualitas emiten, tetapi diimbangi dengan peningkatan rata-rata dana terkumpul per IPO. Faktor utamanya adalah kesuksesan lima lighthouse IPO: PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).

Nyoman menekankan, “Target lima lighthouse sudah tercapai, dan tiga tambahan di pipeline ini akan tingkatkan attractiveness pasar modal kita.”

Tiga Lighthouse di Pipeline: Potensi Jumbo dari Berbagai Sektor

Ketiga calon emiten lighthouse ini memenuhi kriteria BEI seperti aset di atas Rp3 triliun dan free float minimal 15% (senilai Rp700 miliar). Meski identitasnya belum diungkap, spekulasi pasar mengarah pada perusahaan-perusahaan kuat di sektor masing-masing seperti Finance, dengan kemungkinan bank digital atau fintech raksasa seperti PT Superbank Indonesia Tbk (BSPR), yang sempat dirumorkan book building Oktober lalu.

Emiten logistik atau energi seperti anak usaha konglomerat, sejalan dengan tren ekspansi infrastruktur nasional. Juga mining yang fokus nikel atau emas, mengikuti sukses EMAS, dengan potensi tambahan dari BUMN tambang.

Nyoman optimis ketiganya bisa terealisasi akhir 2025, didukung laporan keuangan semester I/2025 sebagai basis pengajuan. “Mayoritas pipeline menggunakan data semester I, jadi gelombang IPO Q4 akan ramai,” tambahnya.

BEI juga mendorong partisipasi BUMN melalui Danantara (superholding BUMN), meski hingga kini belum ada yang masuk pipeline. “Kami ingin perusahaan-perusahaan Danantara siap jadi emiten berkualitas, terutama lighthouse,” kata Nyoman. Untuk 2026, target melonjak menjadi 50 IPO, termasuk enam lighthouse, dengan fokus kualitas tata kelola dan keberlanjutan.

Pipeline ini selaras dengan stabilitas makroekonomi Indonesia (PDB 5,2% YoY) dan inflow asing US$782 juta Oktober lalu. Investor ritel, dengan 8 juta akun aktif, diprediksi serap 40% saham baru, dorong likuiditas IHSG.

Pipeline IPO BEI bukan hanya angka—ia adalah katalisator pertumbuhan ekonomi, dengan lighthouse sebagai mercusuar harapan.

DISCLAIMER ON : Artikel ini disusun berdasarkan pernyataan resmi BEI dan data pasar per 6 November 2025. Pendapat di atas bukan rekomendasi investasi; konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional.



💬 Diskusi & Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *

Masuk ke Akun

Belum punya akun? Daftar sekarang