Prospek CBRE Setelah Dapat Kontrak Rp541 Miliar per Tahun dari Anak Usaha SKRN: Titik Terang Pelunasan Utang Hilong
Jakarta, 9 November 2025 – PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE), emiten jasa lepas pantai (offshore) yang sedang agresif ekspansi, akhirnya menunjukkan titik terang dalam strategi keuangannya. Setelah merampungkan akuisisi kapal *Hai Long 106* senilai US$100 juta (Rp1,61 triliun) dari Hilong Shipping Holding Ltd (HSHL) pada September 2025, CBRE mengumumkan kontrak sewa jangka panjang 8 tahun dengan PT Gunanusa Utama Fabricators—anak usaha PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN). Kontrak ini bernilai Rp541 miliar per tahun, dengan potensi total Rp4,32 triliun, dan menjadi kunci untuk melunasi sisa utang kapal Hilong sebesar US$45 juta melalui pinjaman sindikasi dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Langkah ini tak hanya meredakan kekhawatiran investor soal likuiditas, tapi juga membuka prospek cerah bagi CBRE di tengah boom hilirisasi migas Indonesia.
CBRE, yang sebelumnya fokus pada jasa penunjang migas, melangkah berani dengan akuisisi Hai Long 106—sebuah pipe-laying and lifting vessel canggih untuk proyek instalasi pipa bawah laut dan energi angin lepas pantai. Transaksi ini dibiayai melalui promissory note senilai Rp888 miliar (US$55 juta), dengan komposisi: 25% dari HSHL (US$25 juta) dan 30% dari grup SKRN melalui tiga entitas (US$30 juta, termasuk US$6,5 juta dari SKRN sendiri). Nilai akuisisi ini mencapai 13 kali ekuitas CBRE per Juni 2025 (Rp118 miliar), sementara kas perseroan hanya Rp3 miliar—memicu spekulasi soal risiko gagal bayar.
Kekhawatiran memuncak pada sisa pembayaran US$45 juta, yang jatuh tempo dalam 5 tahun dengan bunga 3% per tahun. Beban bunga tahunan CBRE diproyeksikan Rp177-182 miliar, melebihi laba usahanya per semester I/2025 (ICR hanya 1,18 kali, didukung penjualan aset Rp3 miliar). Right issue jumbo 48 miliar saham baru juga direncanakan untuk tambal sulam, tapi pasar skeptis karena valuasi saham CBRE yang sempat melonjak ribuan persen pasca-pengumuman akuisisi.
Kabar baik datang pada awal November 2025: CBRE mengamankan kontrak bareboat charter (sewa-menyewa kapal) untuk *Hai Long 106* dari Gunanusa Utama Fabricators, anak usaha SKRN yang bergerak di fabrikasi dan konstruksi offshore. Kontrak ini berlangsung 8 tahun, dengan nilai tahunan Rp541 miliar dan potensi total Rp4,32 triliun—setara 2,7 kali ekuitas CBRE saat ini. Pendapatan ini akan tercatat langsung di pembukuan CBRE, mulai operasional komersial awal 2026.
Strategi cerdas: Tagihan kontrak diagunkan sebagai jaminan untuk pinjaman sindikasi BBRI, memungkinkan pelunasan sisa US$45 juta tanpa mengandalkan right issue penuh. Ini juga melibatkan konversi potensial utang SKRN menjadi saham CBRE, yang bisa menjadikan pemilik SKRN—Yafin Tandiono Tan—sebagai calon pengendali baru, menggeser posisi Hapsoro (yang telah membantah keterlibatan).
| Aspek Kontrak | Detail |
|---|---|
| Nilai Tahunan | Rp541 miliar |
| Durasi | 8 tahun (potensi Rp4,32 triliun) |
| Mitra | PT Gunanusa Utama Fabricators (anak usaha SKRN) |
| Jaminan Pendanaan | Diagunkan untuk pinjaman BBRI (pelunasan US$45 juta) |
| Operasional | Mulai 2026, fokus proyek migas lepas pantai |
Kontrak ini menjadi katalis utama prospek CBRE. Pendapatan baru Rp541 miliar/tahun diproyeksikan tingkatkan revenue total 150-200% pada 2026, dari Rp200-300 miliar saat ini, didorong sinergi dengan portofolio existing (tongkang, tunda, bulk carrier). Dengan *Hai Long 106*, CBRE kini kompetitif di segmen instalasi pipa bawah laut, selaras dengan proyek strategis nasional (PSN) seperti hilirisasi gas Pertamina dan energi angin lepas pantai.
Secara keuangan, pinjaman BBRI meredakan tekanan likuiditas: ICR diprediksi naik di atas 2 kali pada 2026, dengan margin EBITDA membaik berkat efisiensi operasional kapal. Right issue kini lebih menarik bagi investor, potensial kumpulkan Rp500 miliar untuk ekspansi tambahan, seperti akuisisi perusahaan offshore lain. Saham CBRE, yang sempat ARA pasca-akuisisi, berpotensi rebound 20-30% jika RUPSLB konversi utang SKRN disetujui.
Meski cerah, prospek CBRE tak lepas dari risiko. Fluktuasi harga minyak global dan penundaan proyek migas bisa tekan utilisasi kapal (target 80% occupancy). Beban utang tetap tinggi (debt-to-equity ratio >5 kali), meski kontrak baru mitigasi. Selain itu, perubahan pengendali ke grup SKRN berpotensi picu volatilitas saham, apalagi dengan keterlibatan Prajogo Pangestu di belakang layar.
Analis Mikirduit menilai, “Kontrak ini ubah narasi CBRE dari ‘risiko tinggi’ menjadi ‘pertumbuhan agresif’, tapi investor harus pantau eksekusi 2026.”
Kontrak Rp541 miliar/tahun dari anak usaha SKRN menjadi penyelamat bagi CBRE, memastikan pelunasan utang Hilong dan membuka pintu diversifikasi ke jasa offshore premium. Di tengah momentum hilirisasi energi nasional, CBRE berpotensi jadi ‘dark horse’ di sektor maritim, dengan target revenue Rp1 triliun+ pada 2027. Bagi investor, ini saatnya akumulasi di level support Rp200-250, tapi diversifikasi tetap kunci. Dengan dukungan BBRI dan SKRN, prospek CBRE kini lebih dari sekadar ‘titik terang’—ini momentum untuk terbang tinggi. Pantau update RUPSLB akhir November untuk konfirmasi!





💬 Diskusi & Komentar