⚖️ Sentimen Pasar: Netral

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Ekspansi Agresif PLTP Salak dan Wayang Windu Dorong Target 1 GW pada 2026

November 8, 2025  •  mahmud yunus

Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID– PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu melalui PT Barito Pacific Tbk (BRPT), semakin agresif memperkuat posisinya di sektor energi terbarukan. Berdasarkan paparan publik terbaru, BREN berencana menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di empat plant utama, dengan fokus pada optimalisasi aset eksisting di Salak dan Wayang Windu, Jawa Barat. Langkah ini tidak hanya mendukung pertumbuhan internal, tapi juga berkontribusi pada target nasional bauran energi terbarukan 23% pada akhir 2025, sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 yang memproyeksikan penambahan 69,6 GW kapasitas listrik nasional.

Didirikan sebagai anak usaha BRPT, BREN mengelola portofolio panas bumi terbesar di Indonesia melalui Star Energy Geothermal (SEG), dengan total kapasitas terpasang 886 MW per akhir 2024. Aset utamanya mencakup Wayang Windu (227 MW), Salak (377 MW), dan Darajat (282 MW), yang semuanya berlokasi di Jawa Barat. Sebagai bagian dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu—konglomerat dengan kekayaan US$32,5 miliar menurut Forbes 2025—BREN IPO pada Oktober 2023 dengan dana Rp3,4 triliun, menjadikannya emiten energi terbarukan terbesar di BEI.

Pada semester I-2025, BREN mencatat pendapatan Rp4,2 triliun (naik 12% YoY) dan laba bersih Rp1,8 triliun, didorong efisiensi operasional dan kontrak jual listrik jangka panjang dengan PLN. Strategi jangka panjangnya menargetkan 1 GW pada 2026 dan 2,3 GW pada 2032, melalui ekspansi organik dan akuisisi wilayah kerja panas bumi (WKP) baru. “Kami berkomitmen mendukung transisi energi Indonesia menuju masa depan hijau,” ujar Direktur Utama Hendra Soetjipto Tan dalam paparan publik November 2025.

Berdasarkan materi paparan publik yang diunggah di laporan BEI, BREN sedang mengerjakan dua proyek besar untuk penambahan kapasitas PLTP di Wayang Windu dan Salak, sebagai bagian dari lima inisiatif keseluruhan yang diresmikan pada Juli 2025. Ekspansi ini menargetkan peningkatan efisiensi melalui teknologi mutakhir seperti single flash dan compact power plant, dengan total tambahan lebih dari 95 MW.

PlantProyekTambahan KapasitasInvestasi (US$ Juta)Target COD
Wayang Windu Unit 3Unit Baru (Single Flash)30 MW106,3Desember 2026
Salak Unit 7Unit Baru (Compact Power)40 MW133Desember 2026
Salak Unit 4,5,6Retrofit (3D Turbine)7,2 MW23Agustus 2025
Wayang Windu Unit 1&2Retrofit (Integrated Control)18,4 MW57Januari 2026

Sumber: Paparan Publik BREN November 2025 dan laporan BEI.

Proyek Wayang Windu Unit 3 dan Salak Unit 7 menjadi andalan, dengan teknologi single flash untuk efisiensi uap tinggi di Wayang Windu dan desain compact untuk Salak Unit 7. Kedua unit ini ditargetkan selesai pada kuartal IV-2026, menyumbang Rp5,9 triliun investasi keseluruhan dari lima proyek. Sebelumnya, Salak Binary (16,6 MW) telah mencapai Commercial Operation Date (COD) pada Februari 2025, menandai kesuksesan tahap awal ekspansi.

Total investasi untuk kelima proyek mencapai US$365 juta, didukung pinjaman hijau US$121 juta dari DBS Bank dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC). Hendra Tan menekankan, “Ekspansi ini bukan hanya menambah MW, tapi juga meningkatkan umur aset dan efisiensi operasional hingga 20%.”

Ekspansi BREN didukung neraca kuat Grup Barito, dengan BRPT mencatat laba bersih Rp15 triliun pada 2024. Strategi konservatif pengelolaan laba memungkinkan reinvestasi besar-besaran, sementara kolaborasi dengan pemerintah—termasuk peresmian oleh Presiden Prabowo Subianto pada Juni 2025—memastikan akses WKP baru. BREN juga menargetkan tiga WKP tambahan pada 2026-2027, potensial tambah 500 MW.

Di tengah tren global net zero, proyek ini sejalan dengan RUPTL PLN yang menekankan energi geothermal sebagai sumber baseload stabil, mengurangi ketergantungan fosil hingga 30% pada 2030.

Pasar merespons positif: Saham BREN naik 5-7% pasca-pengumuman paparan November, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp150 triliun dan PER 12 kali—masih undervalued dibanding peer seperti PGEO. Analis IndoPremier Sekuritas merekomendasikan “buy” dengan target Rp1.200, memproyeksikan EBITDA naik 25% pada 2026 berkat COD proyek baru. Secara keseluruhan, rencana BREN ini memperkuat dominasinya di geothermal Indonesia, mendukung visi Prajogo Pangestu untuk diversifikasi dari petrokimia ke energi hijau. Bagi investor, ini peluang cuan berkelanjutan di tengah boom transisi energi, meski fluktuasi harga komoditas perlu diwaspadai. Dengan target 2,3 GW, BREN s



💬 Diskusi & Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *

Masuk ke Akun

Belum punya akun? Daftar sekarang