PT Futura Energi Global Tbk (FUTR): Lonjakan Laba 444% YoY Meski Pendapatan Turun, Transformasi EBT Jadi Katalis Utama
Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID– PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) mencatatkan prestasi gemilang dengan lonjakan laba bersih sebesar 444,73% year-on-year (YoY) menjadi Rp3,70 miliar per akhir September 2025, meskipun pendapatan usaha terkontraksi 46,51% menjadi Rp33,94 miliar. Kesuksesan ini menjadi buah manis dari diversifikasi bisnis ke sektor energi baru terbarukan (EBT), di mana perusahaan yang dulunya bernama PT Lini Imaji Kreasi Ekosistem Tbk ini kini fokus pada proyek tenaga surya dan geothermal. Manajemen FUTR menegaskan komitmen jangka panjang hingga 2030, termasuk penandatanganan MoU untuk PLTS 130 MW di Bali dan aset geothermal melalui anak usaha, sejalan dengan target nasional bauran energi 23% pada 2025.
PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) didirikan pada 2021 sebagai perusahaan konsultasi kreatif dan gudang, tetapi sejak ganti nama pada 25 Februari 2025, fokusnya bergeser ke EBT. Berbasis di Jakarta, FUTR mengoperasikan segmen perdagangan, jasa penunjang konstruksi, dan konsultasi energi hijau, dengan 8 karyawan hingga November 2025. Pengendali baru, PT Aurora Dhana Nusantara (Ardhantara), mengakuisisi 45% saham pada September 2025, mendorong transformasi menjadi holding EBT yang mengawasi proyek melalui anak usaha seperti PT Sejahtera Alam Energi (SAE), PT Hexa Putra Mekanikal (HPM), dan PT Futura Energi Prima (FEP).
HPM spesialisasi di efisiensi energi seperti gasifikasi, maintenance power plant, dan konstruksi, sementara FEP fokus murni pada EBT. Total aset FUTR naik menjadi Rp240,4 miliar per September 2025 dari Rp231,8 miliar akhir 2024, mencerminkan fondasi kuat pasca-akuisisi. “Diversifikasi ke energi bersih membawa lesatan laba signifikan, dengan efisiensi biaya sebagai kunci utama,” ujar manajemen dalam keterbukaan informasi 30 Oktober 2025.
Meski pendapatan usaha menyusut 46,51% YoY menjadi Rp33,94 miliar, FUTR berhasil membalikkan tren rugi menjadi cuan berkat pemangkasan beban pokok pendapatan 59,59% menjadi Rp22,17 miliar dari Rp54,85 miliar. Akibatnya, laba kotor melonjak menjadi Rp11,7 miliar dari Rp8,6 miliar, sementara laba usaha naik ke Rp3,6 miliar dari Rp1,3 miliar meski beban umum dan administrasi naik tipis ke Rp8,1 miliar.
Segmen perdagangan dan jasa penunjang konstruksi mendominasi dengan kontribusi Rp31,95 miliar (naik dari nol pada 2024), beban Rp13,27 miliar. Sebaliknya, segmen lama seperti konsultasi dan periklanan anjlok 96,41% menjadi Rp2,27 miliar, tapi beban turun 90,01% ke Rp4,59 miliar. “Efisiensi biaya dan shift ke sektor margin tinggi jadi pendorong utama,” tegas perusahaan dalam laporan keuangan.
FUTR merancang roadmap 2025-2030 untuk tingkatkan kapasitas EBT hingga 100 MW, fokus surya dan geothermal, plus carbon credit. Terbaru, pada 21 Oktober 2025, perusahaan tandatangani MoU dengan Zhejiang Energi PV-Tech Co., Ltd (Cina) dan PT Hypec International untuk PLTS 130 MW di Bali, potensi investasi Rp2 triliun dengan PPA PLN. Proyek ini sejalan dengan RUPTL PLN 2025-2034 yang targetkan 42,6 GW EBT.
Melalui SAE, FUTR kuasai aset geothermal dengan PPA 220 MW dan investasi US$80 juta untuk tahap awal di Gunung Slamet, Jawa Tengah. Ardhantara rencanakan FUTR sebagai holding EBT, dengan HPM tangani gasifikasi dan maintenance, FEP kembangkan proyek hijau. “Kami siap saingi BREN dan PGEO sebagai pemain baru EBT, dengan sinergi investor global,” tambah manajemen.
Pasar apresiasi transformasi ini: Saham FUTR naik 8,05% ke Rp805 pada 6 November 2025 pukul 11.16 WIB, lesat 1.002,74% dalam tiga bulan terakhir dari level rendah Rp71. Namun, valuasi premium dengan PER 1.074,69 kali dan PBV 24,15 kali mencerminkan euforia, meski riskan overvalued. YTD, saham naik 920,55%, dengan ATH Rp865 pada 22 Oktober 2025.
Analis Kiwoom Sekuritas merekomendasikan “buy on dip” target Rp1.000, memproyeksikan laba 2026 Rp10 miliar berkat COD proyek Bali. “Potensi backdoor listing via Ardhantara jadi katalis, tapi waspada volatilitas spekulative,” ujar Liza Camelia.
Dengan neraca solid (beban utang rendah) dan pipeline proyek, FUTR diproyeksikan kontribusi pendapatan EBT 70% pada 2026, dukung target net zero 2060. Sebagai pemain baru, perusahaan berpotensi kejar BREN (kapasitas 886 MW) dan PGEO melalui kolaborasi Cina dan PLN. Bagi investor, FUTR tawarkan high-growth di sektor hijau, tapi diversifikasi esensial mengingat PER tinggi. Pantau MoU Bali untuk trigger selanjutnya—transformasi ini bisa jadi cerita sukses EBT Indonesia 2030.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya tanggung jawab pembaca.





💬 Diskusi & Komentar