PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP): Penurunan Kinerja Januari-September 2025, Tantangan Industri Rokok Makin Nyata
Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), raksasa industri tembakau Indonesia yang dikuasai Philip Morris International (PMI), kembali mencatatkan tekanan di tengah gejolak pasar rokok domestik. Sepanjang Januari-September 2025, emiten ini melaporkan penurunan kinerja keuangan yang signifikan, dengan penjualan bersih dan laba bersih terkontraksi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data laporan keuangan menunjukkan penjualan bersih merosot 5,34% menjadi Rp83,74 triliun dari Rp88,47 triliun pada 2024, sementara laba bersih terkoreksi 13,65% ke Rp4,51 triliun dari Rp5,22 triliun. Penurunan ini mencerminkan tantangan struktural di industri, mulai dari downtrading konsumen hingga maraknya rokok ilegal, meski ada sinyal pemulihan di kuartal III.
Sebagai salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia, HMSP telah berdiri sejak 1913 dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 1990. Perusahaan ini menguasai sekitar 30-35% pangsa pasar rokok nasional, dengan merek unggulan seperti Sampoerna A Mild, Dji Sam Soe, dan U Mild yang mendominasi segmen sigaret kretek mesin (SKM). Selain rokok konvensional, HMSP juga mengembangkan produk bebas asap melalui IQOS, yang menjadi pilar pertumbuhan baru sejak akuisisi mayoritas oleh PMI pada 2005.
Operasional HMSP didukung oleh jaringan pabrik di Jawa Timur dan distribusi nasional yang luas, dengan lebih dari 100 ribu mitra produksi sigaret kretek tangan (SKT). Namun, sebagai bagian dari industri tembakau, HMSP rentan terhadap regulasi pemerintah, seperti kenaikan cukai hasil tembakau (CHT) yang telah berlaku sejak 2024. Pada 2024, laba bersih HMSP masih mencapai Rp6,64 triliun, turun dari Rp8,10 triliun tahun 2023, menandakan tren pelemahan yang berlanjut ke 2025.
Detail Kinerja Keuangan Januari-September 2025: Penurunan yang Lebih Lambat di Q3
Laporan keuangan kuartal III/2025 yang dirilis akhir Oktober menegaskan tren negatif, meski ada perbaikan di paruh kedua tahun ini. Berikut ringkasan kunci dibandingkan periode yang sama 2024:
| Komponen Keuangan | Jan-Sep 2025 (Rp Triliun) | Jan-Sep 2024 (Rp Triliun) | Perubahan YoY (%) |
|---|---|---|---|
| Penjualan Bersih | 83,74 | 88,47 | -5,34 |
| Beban Pokok Penjualan | 68,33 | ~73,00 (estimasi) | -6,4 |
| Laba Kotor | 15,41 | 15,47 | -0,38 |
| Laba Bersih | 4,51 | 5,22 | -13,65 |
| Margin Laba Bersih (%) | 5,38 | 5,90 | -0,52 |
Sumber: Laporan Keuangan HMSP Q3/2025.
Penurunan penjualan didominasi oleh segmen SKM, yang turun 10,06% YoY menjadi Rp45,43 triliun di Q3 saja, akibat penurunan volume 3,6% secara keseluruhan—lebih baik dari kontraksi industri nasional sebesar 7,1%. Di sisi positif, kontribusi produk bebas asap seperti IQOS naik menjadi 2,14% dari total penjualan, dari hanya 1,35% tahun lalu, didorong pertumbuhan 34,3% di semester I. Pada semester I, volume penjualan keseluruhan turun 1,5% menjadi 39,3 miliar batang, sementara laba bersih Q1 Rp1,92 triliun (turun dari Rp2,25 triliun) dan Q2 Rp2,13 triliun (dari Rp3,32 triliun).
Neraca tetap solid dengan total aset Rp47,91 triliun, liabilitas Rp21,61 triliun, dan ekuitas Rp26,29 triliun per akhir September, menunjukkan likuiditas yang memadai meski rasio profitabilitas di bawah standar industri.
Penurunan kinerja HMSP bukan kebetulan, melainkan akumulasi faktor eksternal dan internal. Presiden Direktur Ivan Cahyadi menyoroti tren downtrading, di mana konsumen beralih dari produk premium ke yang lebih murah akibat tekanan ekonomi pasca-inflasi 2024-2025. Selain itu, peredaran rokok ilegal yang marak—diperkirakan mencapai 20-30% pasar—menggerus pangsa HMSP, terutama di segmen menengah bawah.
Faktor regulasi juga berperan: Kenaikan CHT sebesar 10% pada 2024 masih berdampak pada 2025, meski pemerintah memastikan tidak ada kenaikan lagi tahun depan. Di Q2, beban pajak satu kali untuk tahun fiskal sebelumnya (berdasarkan PSAK) turut menekan laba, meski tanpa itu, kinerja operasional relatif stabil YoY. Secara keseluruhan, margin laba kotor stabil di 17,4%, tapi tekanan biaya bahan baku dan distribusi menekan EBITDA margin ke 8,5%.
Respons Pasar dan Rekomendasi Analis: Optimisme Jangka Panjang
Pasar bereaksi campur aduk terhadap rilis laporan. Saham HMSP sempat melonjak 4,88-6,10% ke Rp865-870 pasca-pengumuman Q3, tapi kemudian terkoreksi 3,85% ke Rp875 per 5 November, meski masih naik 37,80% year-to-date (YtD). Pergantian Menteri Keuangan ke Purbaya Yudhi Sadewa pada September juga memicu euforia, dengan saham HMSP dan emiten rokok lain seperti GGRM melonjak, didorong harapan penurunan CHT.
Analis tetap bullish. Ciptadana Sekuritas merekomendasikan “buy” dengan target harga Rp950, memproyeksikan penurunan volume lebih kecil (-1,1% YoY) pada 2026 berkat stabilisasi cukai, peningkatan daya beli, dan penegakan hukum anti-ilegal. Sementara itu, analis lain menargetkan Rp1.001,25, menekankan eksposur besar HMSP di SKT dan potensi IQOS.
Meski 2025 menantang, HMSP optimis dengan strategi diversifikasi ke produk reduced-risk seperti IQOS, yang diproyeksikan kontribusi naik ke 5-10% pada 2026. Perusahaan juga mendorong kolaborasi dengan pemerintah untuk kurangi rokok ilegal dan investasi di rantai pasok berkelanjutan. Dengan neraca kuat dan dukungan PMI, HMSP diprediksi pulih di Q4 2025, sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional. Bagi investor, saham ini tetap menarik untuk portofolio defensif, meski volatilitas regulasi perlu diwaspadai.
DISCLAIMER ON : informasi yang disajikan bersifat umum, tidak dijamin akurat 100%, dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna untuk memverifikasinya.





💬 Diskusi & Komentar