PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE): Penguatan Struktur Keuangan Hermanto Tanoko melalui Rights Issue di Tengah Boom Properti 2025
Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE), emiten properti milik konglomerat Hermanto Tanoko, terus memperkuat struktur keuangan dan memperluas portofolio propertinya di tengah momentum pemulihan sektor properti nasional. Emiten yang dikenal dengan brand Tanrise Property ini berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 27 November 2025 di Voza Tower, Surabaya, untuk membahas rights issue senilai potensial Rp1,33 triliun serta perubahan susunan direksi. Langkah ini menjadi katalis utama bagi pertumbuhan agresif RISE, sejalan dengan proyeksi sektor properti yang diprediksi tumbuh 15-18% year-on-year (yoy) pada 2025, didorong insentif pemerintah seperti PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) dan program 3 juta rumah.
PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) didirikan pada 23 Mei 2003 di Sidoarjo, Jawa Timur, dan beroperasi di segmen real estate, hotel, serta perkantoran. Sebagai anak usaha PT Tancorp Global Sentosa (80,3% kepemilikan), RISE dikendalikan oleh Hermanto Tanoko—konglomerat asal Surabaya yang juga memiliki portofolio di ritel dan manufaktur. Perusahaan ini mengelola proyek ikonik seperti Tanrise City, Resor Taman Dayu, VASA Hotel Surabaya, Voza Premium Office, KYO Apartment, dan Solaris Hotel, dengan cadangan lahan ribuan hektare untuk ekspansi.
Sejak IPO pada 2018 yang menghimpun Rp244,5 miliar, RISE telah berkembang dari pengelola gudang dan ruko menjadi pengembang kawasan terpadu. Pada 2024, pendapatan hotel naik 15% yoy menjadi Rp218,5 miliar dari Rp189,4 miliar, sementara EBITDA mencapai Rp128,19 miliar dengan margin 24,13%. Hingga September 2025, total aset Rp1,78 triliun dan ekuitas Rp1,45 triliun, didukung 51 karyawan yang fokus pada inovasi berkelanjutan. “Kami berkomitmen menghadirkan properti inovatif yang memberikan nilai tambah bagi stakeholders,” ujar Direktur Utama Belinda Tanoko, putri Hermanto Tanoko, dalam paparan publik Mei 2025.
RUPSLB yang akan digelar di Voza Tower, Surabaya, menjadi panggung utama RISE untuk meminta persetujuan pemegang saham atas Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I) atau rights issue sebanyak-banyaknya 1,33 miliar saham baru bernominal Rp100 per unit. Agenda lain mencakup perubahan direksi untuk penyegaran manajemen, guna mendukung fase pertumbuhan 2025-2026.
Dana hasil rights issue—dengan harga pelaksanaan belum diumumkan, tapi potensi Rp1,33 triliun berdasarkan nominal—akan dialokasikan untuk pengembangan proyek unggulan: Tanrise City di Bandung dan Sidoarjo, Kawasan Industri di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, serta Resor Taman Dayu di Pasuruan. “Aksi ini memperkuat fundamental keuangan dan membuka ruang pertumbuhan baru di tengah pemulihan properti nasional,” tegas Corporate Secretary Herliani Prayogo dalam keterbukaan informasi 21 Oktober 2025. Proses bookbuilding direncanakan November 2025, setelah persetujuan OJK.
RISE agresif ekspansi dengan meluncurkan empat proyek strategis baru pada September 2025, termasuk mixed-use di Surabaya Barat dan kawasan komersial di Jawa Timur. Sebelumnya, perusahaan mengakuisisi saham PT Taman Dayu dan PT Golf Taman Dayu (anak usaha HM Sampoerna) untuk kembangkan kawasan terpadu, ditambah fasilitas kredit Rp400 miliar dari Bank BCA. Pipeline 2025-2026 juga mencakup 21 proyek baru, fokus pada residensial, apartemen, kondotel, dan perkantoran, dengan cadangan lahan ribuan hektare.
Kinerja 2025 solid: Pendapatan Q1 naik dua digit meski tantangan suku bunga, dengan target pertumbuhan 10-15% berkat PPN DTP. Belinda Tanoko optimis, “Ekspansi ini dukung pertumbuhan berkelanjutan, ciptakan nilai tambah ekonomi.”
Sektor properti Indonesia diprediksi bangkit pada 2025-2029, dengan investasi residensial dan komersial naik 15-18% yoy, kontribusi PDB 11,5% dari 10% tahun lalu. Katalis utama: Program 3 juta rumah, KPR tumbuh 20% berkat suku bunga stabil, dan infrastruktur seperti tol serta kereta cepat. Pengamat Panangian Simanungkalit menyoroti stabilitas pasca-pemilu dan multiplier effect ke 180 sektor lain.
Penjualan rumah Q1 2025 naik 12% yoy, didukung PPN DTP untuk segmen MBR. Tantangan seperti daya beli rendah diatasi melalui inovasi AI dan green building.
Saham RISE melejit 615% YTD hingga Oktober 2025, tembus Rp10.500 pada 23 Oktober, meski terkoreksi ke Rp7.950 per 6 November (naik 2,19% harian). PER 574,75 kali dan PBV undervalued, dengan market cap Rp8,67 triliun. Analis merekomendasikan “buy” target Rp15.100 (ATH), didorong rights issue dan ekspansi.
Secara keseluruhan, RISE di bawah Hermanto Tanoko siap dominasi pemulihan properti 2025 melalui RUPSLB dan rights issue. Bagi investor, ini peluang cuan jangka panjang di sektor bergairah—pantau agenda 27 November untuk trigger rally baru.





💬 Diskusi & Komentar