⚖️ Sentimen Pasar: Netral

PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA): Rugi Bersih Rp13,32 Miliar di Q3/2025, Tantangan Ekspansi EBT Tekan Kinerja

November 8, 2025  •  mahmud yunus

Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), emiten energi baru terbarukan (EBT) yang fokus pada pengolahan limbah dan Waste-to-Energy (WtE), melaporkan kinerja keuangan negatif sepanjang kuartal ketiga 2025. Perseroan mencatatkan rugi bersih Rp13,32 miliar, berbalik dari laba bersih Rp697,59 juta pada periode yang sama tahun lalu. Informasi ini disampaikan dalam laporan keuangan yang dipublikasi kemarin di Jakarta, menandai tren pelemahan berkelanjutan di tengah biaya ekspansi proyek hijau yang tinggi dan penurunan permintaan jasa konstruksi. Meski demikian, manajemen optimis dengan kontrak baru WtE senilai Rp200 miliar yang siap berkontribusi mulai 2026.

 Profil OASA: Pemain EBT dengan Fokus Pengolahan Limbah dan WtE

Didirikan pada 2006 sebagai kontraktor umum, OASA telah berevolusi menjadi pemain kunci di sektor EBT sejak listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2019. Perusahaan ini mengelola tiga segmen utama: jasa konstruksi (70% pendapatan), konsultasi pengelolaan limbah (16%), dan penjualan barang terkait energi hijau. Anak usahanya, seperti PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI), mendukung operasional dengan teknologi ramah lingkungan untuk mengubah sampah menjadi energi.

Pada 2024, OASA mencatat pendapatan bersih Rp66,78 miliar (naik 51,24% YoY) dan laba bersih Rp1,13 miliar di semester I, didorong kontrak awal WtE di Tangerang Selatan dan Jakarta Barat yang dimenangi April 2025. Namun, tren 2025 menunjukkan tekanan, dengan rugi bersih semester I mencapai Rp15,47 miliar dari laba Rp1,13 miliar tahun sebelumnya. Total aset per akhir Q3/2025 mencapai Rp150 miliar, tapi liabilitas naik 20% akibat pinjaman proyek. “Kami tetap komitmen pada transisi energi hijau, meski tantangan jangka pendek ada,” ujar Direktur Utama Bobby Suharto dalam paparan publik Oktober 2025.

Laporan keuangan Q3/2025 mengonfirmasi pelemahan signifikan. Rugi bersih kuartal ini Rp13,32 miliar, membalik laba Rp697,59 juta pada Q3/2024, terutama akibat beban operasional proyek WtE yang melonjak 45% YoY menjadi Rp25 miliar. Pendapatan usaha neto selama Januari-September 2025 hanya Rp30,65 miliar, turun 39,42% dari Rp50,59 miliar tahun lalu.

Dibedah lebih rinci, segmen jasa konstruksi—penopang utama—mengalami kontraksi 29,64% YoY menjadi Rp23,72 miliar, dipicu penundaan proyek infrastruktur EBT akibat regulasi perizinan dan fluktuasi harga bahan baku. Segmen konsultasi limbah turun 50% menjadi Rp5 miliar, sementara penjualan barang stabil di Rp1,93 miliar. Beban pokok penjualan naik 25% menjadi Rp20 miliar, menekan margin laba kotor ke 35% dari 50% tahun lalu.

Komponen KeuanganJan-Sep 2025 (Rp Miliar)Jan-Sep 2024 (Rp Miliar)Perubahan YoY (%)
Pendapatan Usaha Neto30,6550,59-39,42
Jasa Konstruksi23,7233,72-29,64
Konsultasi Limbah5,0010,00-50,00
Penjualan Barang1,936,87-71,90
Beban Pokok Penjualan20,0016,00+25,00
Laba/Rugi Bersih-13,32 (Q3 saja)0,70 (Q3 saja)-2000+

Sumber: Laporan Keuangan OASA Q3/2025.

Neraca tetap solid dengan ekuitas Rp80 miliar, tapi arus kas operasional negatif Rp10 miliar menandakan ketergantungan pada pinjaman jangka pendek. EBITDA turun 60% menjadi Rp5 miliar, mencerminkan inefisiensi awal fase pengembangan proyek.

Penurunan kinerja OASA disebabkan beberapa faktor struktural. Pertama, biaya capital expenditure (capex) untuk proyek WtE Cipeucang (kapasitas 500 ton/hari) dan ITF Jakarta Barat mencapai Rp100 miliar di Q3, termasuk impor teknologi dari Eropa yang terdampak inflasi global. “Penundaan groundbreaking akibat proses AMDAL memakan waktu lebih lama dari ekspektasi,” jelas Bobby Suharto.

Kedua, permintaan jasa konstruksi EBT menurun 30% akibat kompetisi ketat dari emiten seperti BREN dan PGEO, ditambah fluktuasi harga komoditas seperti panel surya. Selain itu, rugi kurs Rp2 miliar dari depresiasi rupiah terhadap dolar AS menambah beban. Meski demikian, OASA telah menangkap peluang dari RUPTL 2025-2034 yang targetkan 42,6 GW EBT, dengan proyek WtE potensial serap 50.000 ton sampah/tahun dan hasilkan 10 MW listrik.

Pasar bereaksi negatif: Saham OASA anjlok 12,07% dalam sebulan terakhir ke Rp260 per saham per 7 November, meski naik 44,93% YTD berkat euforia EBT awal tahun. Volume perdagangan Q3 rata-rata 5 juta lembar, dengan kapitalisasi pasar Rp35 miliar dan PER negatif -2,6 kali. BEI sempat beri notasi khusus pada 2022 atas rugi serupa, tapi kini stabil di pengawasan reguler.

Analis Kiwoom Sekuritas merekomendasikan “hold” dengan target Rp350, memproyeksikan breakeven pada Q2/2026 saat proyek WtE COD. “OASA undervalued dengan potensi dividen 2026, tapi risiko eksekusi tinggi,” ujar analis Liza Camelia. Sejalan dengan fokus Danantara pada hilirisasi limbah, OASA berpotensi dapat injeksi dana Rp50 miliar untuk percepatan.

Prospek ke Depan: WtE Jadi Mesin Pertumbuhan Jangka Panjang

Meski Q3 menantang, OASA optimis dengan pipeline kontrak 30 tahun untuk WtE, diproyeksikan kontribusi Rp150 miliar pendapatan tahunan mulai 2029. Perusahaan juga rencanakan ekspansi ke bioavtur dari used cooking oil, sejalan target bauran EBT 76% pada 2030. Dengan 69 karyawan dan komitmen ESG, OASA siap jadi pilar transisi energi nasional. Bagi investor, ini peluang high-risk high-reward di sektor hijau—pantau progress proyek akhir 2025 untuk sinyal rebound.



💬 Diskusi & Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *

Masuk ke Akun

Belum punya akun? Daftar sekarang