PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Umumkan Santoso Kartono Gantikan Hardi Wijaya Liong sebagai Presiden Komisaris
Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang baru saja melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), mengumumkan perubahan penting di jajaran dewan komisarisnya. Santoso Kartono dinominasikan sebagai calon pengganti Hardi Wijaya Liong sebagai Presiden Komisaris Perseroan. Pengumuman ini menyusul pengunduran diri Hardi pada 3 November 2025, yang akan efektif setelah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 10 Desember 2025. Langkah ini menandai transisi kepemimpinan strategis di tengah momentum pertumbuhan EMAS pasca-IPO jumbo senilai Rp4,66 triliun.
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) didirikan sebagai pengembang utama Proyek Emas Pani di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, yang merupakan salah satu aset emas terbesar di Indonesia dengan cadangan potensial mencapai 7 juta ounce. Sebagai anak usaha MDKA, EMAS fokus pada eksplorasi, penambangan, dan pengolahan bijih emas, dengan first mining yang telah dimulai pada September 2025. Pengolahan emas pertama ditargetkan akhir 2025, diikuti produksi komersial awal 2026.
Perusahaan ini sukses melaksanakan IPO pada 23 September 2025, melepas 1,62 miliar saham baru (10% dari modal disetor) dengan harga Rp2.880 per saham, menghimpun dana segar Rp4,66 triliun setelah dikurangi biaya emisi. Dana tersebut dialokasikan untuk modal kerja operasional anak usaha di bidang penambangan emas serta pembayaran sebagian pinjaman. Hingga akhir Oktober 2025, saham EMAS mencatatkan kenaikan 36,90% sejak debut, didorong tren harga emas global yang melonjak 46% year-to-date ke US$4.000 per troy ons. EMAS kini menjadi bagian dari ekosistem Merdeka Group, yang juga mencakup MDKA sebagai induk dengan portofolio tembaga dan emas terintegrasi.
Hardi Wijaya Liong, salah satu founding partners Provident Capital Partners Pte Ltd sejak 2004, mengajukan pengunduran diri dari posisi Presiden Komisaris EMAS pada 3 November 2025. Pengumuman resmi disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan Adi Adriansyah Sjoekri melalui keterbukaan informasi BEI. “Pengunduran diri Bapak Hardi Wijaya Liong akan berlaku efektif setelah mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan,” ujar Adi.
Hardi, yang juga menjabat sebagai Direktur MDKA sejak 2014 dan Presiden Komisaris PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) sejak 2023, dikenal sebagai figur kunci di Grup Provident. Ia terlibat dalam manajemen berbagai portofolio grup, termasuk investasi strategis di sektor sumber daya alam. Sebagai pemegang saham EMAS sekitar 1,5% (turun dari 1,25% pra-IPO), Hardi memainkan peran penting dalam persiapan IPO EMAS. Alasan pengunduran diri belum diungkap secara rinci, namun pasar menilainya sebagai rotasi internal untuk fokus pada komitmen lain di Grup Provident, seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. Pengunduran ini tidak dianggap material, mengingat dukungan kuat dari pemegang saham induk MDKA, termasuk PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (20,33%) dan afiliasi Edwin Soeryadjaya.
Santoso Kartono: Calon Pengganti dengan Pengalaman Mendalam di Grup Merdeka
Sebagai calon pengganti, Santoso Kartono membawa rekam jejak panjang di ekosistem Merdeka Group. Saat ini, ia menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Sulawesi Nickel Cobalt dan PT ESG Industri Energi Baru, keduanya anak usaha PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Sebelumnya, Santoso meniti karier sebagai Retail Director di JD.ID dari 2015 hingga 2021, di mana ia memimpin strategi distribusi dan e-commerce di pasar Asia Tenggara. Sebagai pemegang saham awal EMAS sejak pra-IPO, kepemilikannya kini sekitar 1,13%.
Pengalaman Santoso di sektor energi baru dan nikel menjadikannya aset berharga bagi EMAS, terutama dalam mengintegrasikan praktik ESG (Environmental, Social, Governance) ke operasional tambang. Nominasi ini diharapkan memperkuat tata kelola perusahaan pasca-IPO, sejalan dengan komitmen Merdeka Group untuk transparansi dan keberlanjutan. “Santoso Kartono telah berkontribusi signifikan dalam pengembangan portofolio Grup Merdeka, khususnya di bidang material baterai dan energi terbarukan,” sebut pernyataan resmi EMAS.
Dampak Pasar dan Prospek ke Depan
Pasar merespons pengumuman dengan hati-hati: Saham EMAS sempat terkoreksi 2-3% pada 6 November, sementara MDKA turun 1,5% di awal sesi, mencerminkan kekhawatiran sementara atas perubahan kepemimpinan. Namun, analis tetap optimis, dengan rekomendasi “buy” dari Ciptadana Sekuritas yang menargetkan harga EMAS Rp3.500, didorong cadangan Pani dan tren emas bullish. RUPSLB 10 Desember akan menjadi penentu akhir, tapi transisi ini dipandang sebagai kelanjutan momentum positif EMAS.
Secara keseluruhan, penggantian ini memperkuat fondasi EMAS sebagai pemain emas terdepan di Indonesia, dengan Santoso Kartono siap memimpin fase produksi komersial. Bagi investor, ini peluang diversifikasi di sektor komoditas, meski volatilitas harga emas global tetap perlu diwaspadai. Merdeka Group terus membuktikan ketangguhannya di tengah dinamika pasar 2025.





💬 Diskusi & Komentar