Ramai-ramai Garap Panas Bumi: DSSA, FUTR, dan ARCI Manfaatkan 40% Cadangan Global Indonesia
Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – Gelombang antusiasme di sektor energi baru terbarukan (EBT) kian membara seiring maraknya emiten terbuka yang merambah bisnis panas bumi. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Futura Energi Global Tbk (FUTR), dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menjadi pelaku utama yang memanfaatkan potensi cadangan panas bumi Indonesia, yang mencapai 40% dari total global atau setara 24 gigawatt (GW). Meski baru sekitar 10% yang telah dikembangkan, kolaborasi strategis ini diharapkan mempercepat transisi energi nasional menuju net zero emissions 2060.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM menargetkan tambahan 5,2 GW kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) hingga 2034, sejalan dengan RUPTL 2025-2034. Lonjakan minat ini didorong oleh dukungan kebijakan seperti insentif pajak dan kemudahan perizinan, serta permintaan global akan energi bersih yang stabil sebagai baseload.
Kolaborasi DSSA dengan FirstGen: Target 440 MW di Enam Wilayah
PT DSSR Daya Mas Sakti (DSSR), anak usaha DSSA Grup Sinar Mas, resmi menjalin kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia, entitas anak Energy Development Corporation (EDC) dari Filipina, sejak Agustus 2025. Kerja sama ini diwujudkan melalui joint venture (JV) bernama PT Daya Mas Bumi Sentosa (DMBS), dengan kepemilikan 50:50.
Fokus pengembangan mencakup enam lokasi potensial Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur (Flores), Jambi, Sumatra Barat, dan Sulawesi Tengah, dengan potensi total 440 MW.
“Kolaborasi ini bukan sekadar investasi, tapi transfer keahlian global EDC untuk memperkuat kapasitas domestik,” ujar Lokita Prasetya, Presiden Direktur DSSR sekaligus Wakil Presiden Direktur DSSA. Pembentukan JV ditargetkan rampung kuartal IV/2025, dengan kontribusi signifikan terhadap ketahanan energi nasional.
| Lokasi Proyek | Potensi Kapasitas | Status |
|---|---|---|
| Jawa Barat | Bagian dari 440 MW | Pra-eksplorasi |
| Flores (NTT) | Bagian dari 440 MW | Pra-eksplorasi |
| Jambi | Bagian dari 440 MW | Pra-eksplorasi |
| Sumatra Barat | Bagian dari 440 MW | Pra-eksplorasi |
| Sulawesi Tengah | Bagian dari 440 MW | Pra-eksplorasi |
PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) mengalami transformasi besar pasca-akuisisi mayoritas sahamnya oleh PT Aurora Dhana Nusantara (Ardhantara) pada Oktober 2025. Kini diarahkan sebagai holding energi hijau, FUTR menargetkan proyek geothermal di Gunung Slamet, Jawa Tengah, melalui anak usaha PT Sejahtera Alam Energi (SAE).
Proyek Baturaden ini berpotensi 220 MW, dengan Power Purchase Agreement (PPA) 30 tahun bersama PLN. Saat ini memasuki tahap eksplorasi aktif seperti geosurvey, pengeboran sumur awal, dan infrastruktur pendukung. Investasi awal mencapai US$80 juta (Rp1,2 triliun), dengan pengeboran direncanakan mulai 2026. Ardhantara juga bernegosiasi dengan mitra global untuk ekspansi ke PLTS, LPG, dan green methanol.
“Dengan fondasi perusahaan publik, FUTR siap bersaing dengan raksasa seperti BREN dan DSSA,” kata Executive Chairman Ardhantara, Anggara Suryawan. Rencana rights issue 2026 akan mendanai percepatan proyek, menargetkan valuasi setara emiten EBT top.
ARCI dan Ormat, seperti diketahui bersama, JV Toka Tindung Target 40 MW di Sulawesi Utara, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), emiten pertambangan emas terkemuka, melanjutkan diversifikasi ke EBT melalui JV dengan Ormat Technologies Inc. sejak 2021. Pada Juni 2025, PT Toka Tindung Geothermal (TTG) memperoleh Izin Usaha Pertambangan Panas Bumi (IUPB) untuk area Bitung, Sulawesi Utara, di kawasan konsesi tambang emas Toka Tindung.
Dengan struktur kepemilikan Ormat 95% dan ARCI 5%, proyek ini berpotensi 40 MW. Ormat bertanggung jawab atas eksplorasi, pengeboran, dan operasional, sementara ARCI mendukung keberlanjutan lingkungan. “Ini sejalan dengan komitmen kami untuk energi terbarukan di area tambang,” ujar Hidayat Dwiputro Sulaksono, Direktur Keuangan ARCI. Penilaian sumber daya (heat check) telah rampung, dengan rencana pengembangan lanjutan pada 2026.
Keterlibatan DSSA, FUTR, dan ARCI tidak hanya tingkatkan kontribusi EBT ke bauran energi nasional (target 23% pada 2025), tapi juga ciptakan sinergi antar-sektor. Tantangan seperti biaya tinggi dan regulasi sosial tetap ada, tapi dukungan pemerintah melalui ANVF 2025 dan forum global memperkuat momentum.
Analis memproyeksikan sektor panas bumi capai Rp500 triliun investasi hingga 2030, dengan Indonesia berpotensi salip AS sebagai pemimpin PLTP dunia pada 2029. “Panas bumi jawab trilema energi: bersih, andal, dan terjangkau,” tegas Direktur Keuangan PGE, Yurizki Rio.
Era baru energi hijau Indonesia kian terang, didorong swasta yang ramai-ramai garap ‘harta karun’ bawah tanah.
DISCLAIMER ON : Artikel ini disusun berdasarkan data ESDM, BEI, dan laporan perusahaan per 7 November 2025. Pendapat di atas bukan rekomendasi investasi; konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional.





💬 Diskusi & Komentar