Rencana Lotte Chemical Perluas Investasi di Indonesia: Mengembangkan Kembali Pabrik Petrokimia di Cilegon
Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – Di tengah momentum hilirisasi industri nasional yang semakin kuat, PT Lotte Chemical Indonesia (LCI), anak usaha raksasa konglomerat Korea Selatan Lotte Group, mengumumkan rencana ekspansi signifikan untuk pabrik petrokimia di Cilegon, Banten. Proyek ini tidak hanya menandai kebangkitan investasi setelah masa mangkrak selama enam tahun, tetapi juga menjadi salah satu tonggak terbesar dalam memperkuat kemandirian petrokimia Indonesia. Dengan lahan seluas 110 hektare yang baru dimanfaatkan 70 hektare, Lotte berpotensi menambah investasi miliaran dolar untuk memaksimalkan potensi kawasan tersebut, sekaligus mendukung target ekspor dan pengurangan impor nasional.
Pabrik New Ethylene Project (LINE Project) milik LCI sempat terhenti akibat pandemi COVID-19 pada 2019, tetapi kini telah bangkit sebagai proyek strategis nasional (PSN). Pada 6 November 2025, Presiden Prabowo Subianto secara resmi meresmikan fasilitas ini, yang dibangun di atas lahan seluas 110 hektare di Kawasan Industri Cilegon. Saat ini, hanya sekitar 70 hektare yang telah dimanfaatkan untuk operasional utama, meninggalkan ruang luas untuk pengembangan lebih lanjut. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, “Ke depan pasti insyaAllah akan ada pengembangan investasi,” menegaskan komitmen Lotte untuk memanfaatkan sisa lahan tersebut.
Nilai investasi awal proyek ini mencapai US$3,9 miliar atau sekitar Rp62 triliun, tetapi telah melonjak menjadi US$4 miliar (Rp63-64 triliun) akibat penyesuaian biaya konstruksi. Angka ini menjadikannya salah satu investasi pabrik petrokimia terbesar di Asia Tenggara, melampaui kapasitas pabrik serupa milik Lotte di Malaysia. Fasilitas ini terintegrasi dengan pabrik polietilena (PE) berkapasitas 450.000 ton per tahun yang telah beroperasi sebelumnya, dan dirancang untuk memproduksi naphtha cracker dengan kapasitas 3 juta ton per tahun, termasuk 1 juta ton etilena, 520.000 ton propilena, serta produk turunan seperti butadiena dan BTX (benzena, toluena, xilena).
Laporan dari Lotte yang disampaikan kepada pemerintah Indonesia menunjukkan rencana ekspansi yang ambisius. Dengan sisa lahan sekitar 40 hektare, perusahaan berencana membangun fasilitas tambahan untuk produk petrokimia bernilai tambah tinggi, seperti plastik khusus dan serat sintetis, guna mendukung rantai pasok industri hilir. Chairman Lotte Group, Shin Dong-bin, menegaskan komitmen ini saat peresmian, dengan menyatakan bahwa Lotte akan “terus berinvestasi ke produk petrokimia bernilai tambah tinggi.”
Selain itu, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sedang mengkaji penawaran Lotte untuk mengakuisisi 35% saham proyek ini, dengan nilai ekuitas sekitar US$1,7 miliar. CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut partisipasi ini akan dilakukan melalui investasi langsung, bukan via BUMN, untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan potensi pertumbuhan. Langkah ini tidak hanya menambah modal segar, tetapi juga memperkuat kemitraan Indonesia-Korea, sebagaimana dibahas di sela KTT APEC 2025 di Gyeongju.
Proyek ini diproyeksikan mulai beroperasi secara komersial pada Oktober 2025, dengan produksi penuh pada Maret 2026 dan ekspor pertama pada Mei 2026 ke negara seperti Malaysia, Thailand, dan India. Dari total produksi, 70% akan memenuhi kebutuhan domestik, sementara 30% diekspor, menghasilkan revenue tahunan hingga US$2 miliar.
Ekspansi Lotte di Cilegon diharapkan memberikan dampak multiguna bagi perekonomian Indonesia. Pertama, pabrik ini mampu menggantikan impor petrokimia hingga US$1,4 miliar (Rp23,4 triliun) per tahun, mengurangi ketergantungan yang saat ini mencapai lebih dari 50% dari kebutuhan nasional. Menteri Investasi Rosan Roeslani menekankan bahwa proyek ini “memberi dampak positif bagi industrialisasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.”
Kedua, secara langsung, pabrik ini menyerap 14.000 tenaga kerja, dengan hanya 4% berasal dari Korea Selatan, sementara secara tidak langsung menciptakan hingga 40.000 lapangan kerja melalui efek multiplier di sektor hilir seperti pengemasan, otomotif, dan resin sintetis. Selain itu, program transfer teknologi dan pelatihan akan meningkatkan kualitas SDM lokal, mendukung visi kemandirian energi Prabowo.
Ketiga, insentif seperti tax holiday yang diberikan pemerintah menjadi katalisator utama. Bahlil Lahadalia memastikan bahwa fasilitas fiskal ini mendorong Lotte untuk memperluas pabrik, sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pusat petrokimia regional.
Meski menjanjikan, proyek ini menghadapi tantangan seperti fluktuasi harga bahan baku global dan kebutuhan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk infrastruktur pendukung. Namun, dengan dukungan penuh dari Kementerian Investasi/BKPM dan ESDM, serta keterlibatan Danantara, prospeknya cerah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut ini sebagai “simbol kuat kemitraan Indonesia-Korea” yang akan memicu investasi lanjutan.
Rencana Lotte Chemical untuk menambah investasi di Cilegon bukan hanya soal ekspansi lahan, tetapi juga komitmen jangka panjang untuk membangun ekosistem petrokimia berkelanjutan di Indonesia. Dengan nilai mencapai Rp63-64 triliun dan potensi pengurangan impor Rp23 triliun, proyek ini menjadi bukti nyata bahwa hilirisasi migas dapat mendorong pertumbuhan inklusif. Pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo siap mendukung langkah ini, menjadikan Cilegon sebagai pusat industri kimia terdepan di Asia Tenggara. Ke depan, kolaborasi dengan Danantara diharapkan membuka babak baru investasi asing yang lebih terintegrasi dengan kepentingan nasional.





💬 Diskusi & Komentar