⚖️ Sentimen Pasar: Netral

Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) Tembus Level Tertinggi Baru, Didorong Kontrak Petronas dan Kinerja Q3 Gemilang

November 8, 2025  •  mahmud yunus

Jakarta, SAHAMBAGUS.CO.ID – Saham PT Petrosea Tbk (PTRO), emiten jasa pertambangan milik konglomerat Prajogo Pangestu, mencatatkan performa cemerlang di pasar modal Indonesia. Pada akhir perdagangan Kamis (6/11/2025), saham PTRO melonjak 4,28% ke level Rp7.925 per saham, dengan sentuhan tertinggi sepanjang masa (ATH) di Rp8.125. Lonjakan ini disertai volume transaksi masif sebanyak 118,6 juta lembar saham, frekuensi 33.092 kali, dan nilai transaksi Rp942,53 miliar. Tak hanya itu, investor asing turut mencatatkan net buy senilai Rp20,04 miliar, menandakan kepercayaan global terhadap prospek perusahaan di tengah boom hilirisasi minerba dan migas nasional.

Kenaikan ini sejalan dengan momentum positif PTRO pasca-pengumuman anak usaha yang meraih kontrak EPCIC dari Petronas, ditambah laba Q3/2025 yang melejit 142% YoY. Dengan kapitalisasi pasar kini mencapai Rp80 triliun, saham PTRO telah naik 391% dalam setahun terakhir, menjadikannya salah satu top performer di sektor pertambangan.

PT Petrosea Tbk (PTRO) didirikan pada 1972 dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 1990 dengan kode PTRO. Sebagai anak usaha PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang dikuasai Prajogo Pangestu melalui PT Kreasi Jasa Persada (45,31%), PTRO berfokus pada jasa pertambangan, rekayasa, pengadaan & konstruksi (EPC), serta layanan logistik lepas pantai. Perusahaan ini mengoperasikan tiga segmen utama: Mining (penambangan), Engineering & Construction (rekayasa & konstruksi), dan Oil & Gas Services.

Dengan lebih dari 7.600 karyawan, PTRO melayani klien global seperti Freeport, Vale, dan kini Petronas, dengan portofolio kontrak baru mencapai US$1,9 miliar hingga akhir 2025. Strategi diversifikasi ke EPCI offshore—termasuk akuisisi Grup Hafar (HDK dan HDS) pada Agustus 2025 senilai Rp400 miliar bersama PT Rukun Raharja Tbk (RAJA)—telah memperkuat kapabilitasnya di migas lepas pantai. “Ekspansi ini mendukung value chain hulu-hilir migas dan minerba nasional,” ujar Presiden Direktur Michael dalam paparan publik. PTRO juga menegaskan tidak ada afiliasi dengan PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) terkait proyek Petronas, menghindari spekulasi pasar.

Perdagangan Kamis (6/11) menjadi saksi euforia investor terhadap PTRO. Saham dibuka di Rp7.600, langsung menguat sepanjang sesi hingga menyentuh Rp8.125—ATH baru yang melampaui rekor sebelumnya Rp7.750 pada Oktober. Penutupan di Rp7.925 mencerminkan sentimen bullish, didukung net buy asing Rp20,04 miliar yang menunjukkan inflow dana segar dari luar negeri.

Pada Jumat (7/11), saham PTRO bahkan naik 7,89% lagi ke Rp8.550, dengan volume 114 juta lembar dan nilai Rp956,9 miliar, didorong pengumuman kontrak Petronas senilai US$9,5 juta untuk anak usaha HDK di proyek Lapangan Hidayah. Secara year-to-date (YTD), PTRO telah menguat 211%, dengan PER 12 kali dan PBV 4,5 kali—masih atraktif dibanding peer.

Kinerja keuangan PTRO pada Januari-September 2025 menjadi katalis utama. Laba bersih melonjak 141,88% YoY menjadi US$6,94 juta (Rp115,71 miliar), sementara pendapatan naik 18% ke US$603,84 juta dari US$509,91 juta tahun sebelumnya. Segmen konstruksi & rekayasa (US$271,83 juta) dan penambangan (US$267,16 juta) mendominasi, dengan EBITDA naik 50,9% berkat efisiensi operasional dan margin laba kotor 20,9%.

Kontribusi EPCI dari akuisisi HDK diproyeksikan 4% pendapatan 2025, naik ke 7% pada 2026-2030 dengan CAGR 47,7%. Total aset membengkak menjadi US$1,40 miliar per September 2025, meski beban bunga naik dua kali lipat akibat ekspansi. Manajemen memproyeksikan pendapatan tahunan US$663,52 juta, didukung kontrak baru seperti dengan Vale Indonesia dan Sinar Mas senilai Rp3,5 triliun.

Analis ramai merekomendasikan “buy”. Henan Putihrai Sekuritas menaikkan target harga ke Rp10.000 dari Rp4.500, sementara MNC Sekuritas mematok Rp8.200-Rp8.650 dengan stop loss Rp6.800. Kiwoom Sekuritas sebelumnya terkejut saham tembus Rp6.000, sementara IndoPremier menyoroti potensi EPCI offshore sebagai “mesin pertumbuhan baru”.

Dengan dukungan Prajogo Pangestu—konglomerat dengan aset Rp500 triliun—PTRO siap ekspansi global, termasuk rencana akuisisi Scan-Bilt Pte Ltd. Namun, risiko seperti fluktuasi komoditas dan utang jangka panjang perlu diwaspadai. Bagi investor, PTRO tetap pilihan solid di sektor minerba, dengan dividen 2024 Rp50/saham sebagai bonus. Di tengah IHSG yang hijau (naik 0,69% ke 8.394 pada 7/11), saham ini berpotensi tembus Rp9.000 akhir tahun.



💬 Diskusi & Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *

Masuk ke Akun

Belum punya akun? Daftar sekarang