Di tengah euforia transisi energi hijau, Indonesia terus menggeber program biodiesel berbasis minyak sawit mentah (CPO). Setelah sukses menerapkan B35 dan mulai B40, pemerintah kini menggodok percepatan menuju B50—campuran 50% fatty acid methyl ester (FAME) dari sawit dengan solar.
Namun, di balik janji kemandirian energi, muncul suara kritis dari pakar global: apakah langkah ini terlalu ambisius dan justru berpotensi menjadi bumerang?
Peringatan keras datang dari Julian Conway McGill, Managing Director Glenauk Economics, salah satu analis paling berpengaruh di industri minyak nabati dunia.
Dalam wawancara eksklusif di sela-sela Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 yang digelar pada 12-14 November 2025 di Bali International Convention Center (BICC) The Westin Resort, Nusa Dua, Bali, McGill menyebut percepatan dari B30 ke B40 hingga wacana B50 telah menciptakan ekspektasi pasar yang berlebihan.
“Program biodiesel Indonesia terlalu berhasil,” ujar McGill dengan nada ironis. Pasar global langsung bereaksi: harga CPO tetap bertengger tinggi karena asumsi permintaan domestik akan melonjak drastis. Investor dan trader sawit berlomba-lomba menimbun, bahkan sebelum kebijakan B50 resmi diterapkan. Akibatnya, harga CPO domestik dan internasional terdorong naik secara prematur.
Ironi semakin terasa ketika harga solar global justru sedang rendah. Selisih harga (spread) antara CPO dan solar melebar signifikan, membuat biaya produksi biodiesel membengkak. Subsidi yang dikeluarkan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) melalui pungutan ekspor pun ikut tertekan.
“Pembiayaan B40 saja sudah menantang, apalagi B50,” tegas McGill. Jika B50 dipaksakan, beban fiskal negara bisa melonjak tajam—potensi miliaran dolar tambahan subsidi di tengah defisit anggaran yang sudah mengintai.
Belum lagi dari sisi kapasitas industri. Produksi FAME nasional saat ini belum sepenuhnya siap menyerap lonjakan volume untuk B50, yang diperkirakan butuh tambahan 2-3 juta ton CPO per tahun. Investasi pabrik biodiesel baru dibutuhkan masif, tapi iklim investasi sawit sedang tertekan regulasi EUDR Uni Eropa dan ketidakpastian domestik.
Peringatan McGill bukan suara sumbang tunggal. Di forum IPOC yang sama, analis lain seperti Thomas Mielke dari Oil World juga memprediksi B50 bisa memicu price shock global jika pasokan sawit tak bertambah signifikan. Dorab Mistry dari Godrej International bahkan optimis harga CPO bisa tembus RM5.500 per ton jika B50 benar-benar digeber—bagus untuk petani, tapi buruk bagi konsumen minyak goreng domestik dan daya saing ekspor.
Ambisi B50 memang menggiurkan: hemat devisa impor solar hingga miliaran dolar, dukung petani sawit kecil, dan klaim kontribusi terhadap net zero emission. Tapi tanpa perhitungan matang—termasuk peningkatan produktivitas kebun, peremajaan sawit rakyat, dan diversifikasi pasar ekspor—kebijakan ini berisiko mengguncang stabilitas pasar sawit yang selama ini menjadi tulang punggung devisa non-migas.
Pemerintah perlu mendengar suara seperti McGill: biodiesel adalah alat energi, bukan senjata politik jangka pendek. Percepatan yang berlebihan bisa berujung pada koreksi harga brutal ketika ekspektasi pasar runtuh. Di saat harga solar global rendah dan kompetitor seperti kedelai atau sunflower oil mengintai, Indonesia harus bijak: jangan sampai “terlalu berhasil” justru menjadi kutukan bagi industri sawit sendiri.
IPOC 2025 kembali membuktikan diri sebagai barometer global industri sawit. Di tengah tema “Navigating Complexity, Driving Growth”, peringatan dari pakar seperti McGill mengingatkan kita: pertumbuhan harus berkelanjutan, bukan spekulatif.
Analisis | Oleh: Tim Redaksi SahamBagus.co.id