Waspada! Kenali 13 Fase ‘Gorengan’ Saham oleh Bandar, Jangan Sampai Jadi Korban Cuci Piring

10/16/2025 — Ahmad Anke, Saham Bagus Trading Community
📞 Hubungi via WhatsApp
⚖️ Neutral

Jakarta, Sahambagus.co.id – Dunia pasar saham kerap diwarnai dengan pergerakan harga yang liar dan tak terduga. Di balik kenaikan fantastis sebuah saham dalam waktu singkat, seringkali ada skenario besar yang dimainkan oleh pihak-pihak tertentu yang biasa disebut ‘bandar’. Praktik ini, yang populer dengan istilah ‘menggoreng saham’, memiliki pola yang bisa dipelajari agar investor ritel tidak terjebak menjadi korban.

Ahmad Anke dari Saham Bagus Trading Community membedah tuntas rahasia dapur para bandar dalam 13 fase sistematis. Menurutnya, memahami alur permainan ini adalah kunci bagi investor ritel untuk berinvestasi dengan lebih bijak dan waspada.

“Semua dimulai dari sebuah kesepakatan tersembunyi dan diakhiri dengan pesta yang meriah bagi bandar, namun seringkali menyisakan kerugian bagi investor yang ikut-ikutan tanpa pemahaman,” ujar Ahmad.

Berikut adalah 13 fase bagaimana bandar merancang dan mengeksekusi permainan mereka, menurut pemaparan Ahmad Anke.

 

Fase 1: Kesepakatan di Balik Layar (Langkah 1-2)

 

Semuanya berawal dari emiten atau pemilik saham dalam jumlah besar yang menyerahkan ‘barang’ (lembar saham) beserta sejumlah dana kepada bandar. Tujuannya satu: “mengelola” saham tersebut agar harganya naik signifikan.

Bandar kemudian akan merancang sebuah skenario permainan yang komprehensif. “Mereka akan mengajukan proposal lengkap dengan target harga, target waktu, dan tentu saja, skema bagi hasil keuntungan,” jelas Ahmad.

 

Fase 2: Akumulasi Senyap & Hibernasi (Langkah 3-5)

 

Setelah kesepakatan tercapai, bandar memulai aksinya dengan melakukan akumulasi beli secara perlahan di pasar. Pada fase ini, pergerakan harga saham dijaga agar naik-turun dalam rentang yang tipis.

“Tujuannya adalah membuat investor ritel yang sudah memegang saham tersebut merasa bosan, tidak sabar, dan akhirnya memutuskan untuk menjual rugi (cut loss),” ungkapnya.

Proses akumulasi ini dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menarik perhatian. Pembelian dipecah dalam jumlah kecil dan disebar melalui beberapa sekuritas berbeda. Selama fase ini, tidak akan ada berita positif apapun mengenai emiten tersebut. Inilah yang disebut fase hibernasi, di mana saham seolah-olah ‘tertidur’ dan tidak menarik.

 

Fase 3: Pesta Dimulai – Rekayasa Berita & Euforia Ritel (Langkah 6-11)

 

Ketika jumlah lembar saham yang dikuasai bandar dirasa cukup, aksi ‘menggoreng’ yang sesungguhnya dimulai. Bandar akan mulai merancang sebuah Corporate Action atau aksi korporasi yang bombastis untuk dijadikan katalis.

“Jenisnya bisa bermacam-macam, ada sekitar 13 jenis yang pernah kami bahas. Intinya adalah menciptakan sebuah cerita yang terlihat sangat prospektif,” kata Ahmad.

Rilis mengenai aksi korporasi ini kemudian disebar secara masif ke media untuk diberitakan. Investor ritel yang membaca berita tersebut akan mulai melirik saham ini. Mereka menilai prospeknya cerah dan mulai terjangkit Fear Of Missing Out (FOMO).

Akibatnya, investor ritel berbondong-bondong membeli saham tersebut, menciptakan permintaan besar yang secara alami mengerek harga saham naik tajam.

 

Fase 4: Guyuran & Akhir Pesta (Langkah 12-13)

 

Di puncak euforia, ketika harga saham sudah mencapai target dan investor ritel sedang berebut untuk membeli, bandar pun melancarkan aksi pamungkasnya. Mereka akan menjual atau ‘mengguyur’ semua saham yang telah mereka akumulasi di harga bawah kepada pasar.

Aksi jual besar-besaran ini membuat pasokan saham membanjiri pasar, sementara permintaan mulai jenuh. Akibatnya, harga saham anjlok drastis.

Party is over. Pesta telah usai,” tegas Ahmad. “Saat inilah para investor ritel yang baru masuk di harga puncak dibiarkan merugi, atau dalam istilah pasar: ‘mencuci piring’ kotor sisa pesta.”

Ahmad menambahkan bahwa siklus ini bisa terus berulang. Jika bandar ingin kembali ‘menggoreng’ saham yang sama atau saham lainnya, mereka hanya perlu mengulangi kembali langkah-langkah dari awal.

Bagi investor, pemahaman akan fase-fase ini menjadi benteng pertahanan utama. Kuncinya adalah jangan mudah termakan berita atau ikut-ikutan tren sesaat. Selalu lakukan riset mendalam (DYOR – Do Your Own Research) terhadap fundamental perusahaan sebelum memutuskan untuk berinvestasi.


Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *